Maaf mengganggu kenyamanan Anda.
Blog ini masih dalam proses penyempurnaan dan perbaikan menuju kenyamanan si pembaca, penulis, dan mungkin suatu saat pendengarnya juga…
Maaf mengganggu kenyamanan Anda.
Blog ini masih dalam proses penyempurnaan dan perbaikan menuju kenyamanan si pembaca, penulis, dan mungkin suatu saat pendengarnya juga…
Andragogi (berdasar tulisannya Supriadi M.Pd dalam pendidikan network)
A. Pengertian
Andragogi berasal dari dua kata dalam bahasa Yunani, yakni Andra berarti orang dewasa dan agogos berarti memimpin. Perdefinisi andragogi kemudian dirumuskan sebagai “Suatu seni dan ilmu untuk membantu orang dewasa belajar”. Kata andragogi pertama kali digunakan oleh Alexander Kapp pada tahun 1883 untuk menjelaskan dan merumuskan konsep-konsep dasar teori pendidikan Plato. Meskipun demikian, Kapp tetap membedakan antara pengertian “Social-pedagogy” yang menyiratkan arti pendidikan orang dewasa, dengan andragogi. Dalam rumusan Kapp, “Social-pedagogy” lebih merupakan proses pendidikan pemulihan (remedial) bagi orang dewasa yang cacat. Adapun andragogi, justru lebih merupakan proses pendidikan bagi seluruh orang dewasa, cacat atau tidak cacat secara berkelanjutan.
B. Andragogi dan Pedagogi
Malcolm Knowles menyatakan bahwa apa yang kita ketahui tentang belajar selama ini adalah merupakan kesimpulan dari berbagai kajian terhadap perilaku kanak-kanak dan binatang percobaan tertentu. Pada umumnya memang, apa yang kita ketahui kemudian tentang mengajar juga merupakan hasil kesimpulan dari pengalaman mengajar terhadap anak-anak. Sebagian besar teori belajar-mengajar, didasarkan pada perumusan konsep pendidikan sebagai suatu proses pengalihan kebudayaan. Atas dasar teori-teori dan asumsi itulah kemudian tercetus istilah “pedagogi” yang akar-akarnya berasal dari bahasa Yunani, paid berarti kanak-kanak dan agogos berarti memimpin. Kemudian Pedagogi mengandung arti memimpin anak-anak atau perdefinisi diartikan secara khusus sebagai “suatu ilmu dan seni mengajar kanak-kanak”. Akhirnya pedagogi kemudian didefinisikan secara umum sebagai “ilmu dan seni mengajar”.
Untuk memahami perbedaan antara pengertian pedagogi dengan pengertian andragogi yang telah dikemukakan, harus dilihat terlebih dahulu empat perbedaan mendasar, yaitu :
1. Citra Diri
Citra diri seorang anak-anak adalah bahwa dirinya tergantung pada orang lain. Pada saat anak itu menjadi dewasa, ia menjadi kian sadar dan merasa bahwa ia dapat membuat keputusan untuk dirinya sendiri. Perubahan dari citra ketergantungan kepada orang lain menjadi citra mandiri. Hal ini disebut sebagai pencapaian tingkat kematangan psikologis atau tahap masa dewasa. Dengan demikian, orang yang telah mencapai masa dewasa akan berkecil hati apabila diperlakukan sebagai anak-anak. Dalam masa dewasa ini, seseorang telah memiliki kemauan untuk mengarahkan diri sendiri untuk belajar. Dorongan hati untuk belajar terus berkembang dan seringkali justru berkembang sedemikian kuat untuk terus melanjutkan proses belajarnya tanpa batas. Implikasi dari keadaan tersebut adalah dalam hal hubungan antara guru dan murid. Pada proses andragogi, hubungan itu bersifat timbal balik dan saling membantu. Pada proses pedagogi, hubungan itu lebih ditentukan oleh guru dan bersifat mengarah.
2. Pengalaman
Orang dewasa dalam hidupnya mempunyai banyak pengalaman yang sangat beraneka. Pada anak-anak, pengalaman itu justru hal yang baru sama sekali.Anak-anak memang mengalami banyak hal, namun belum berlangsung sedemikian sering. Dalam pendekatan proses andragogi, pengalaman orang dewasa justru dianggap sebagai sumber belajar yang sangat kaya. Dalam pendekatan proses pedagogi, pengalaman itu justru dialihkan dari pihak guru ke pihak murid. Sebagian besar proses belajar dalam pendekatan pedagogi, karena itu, dilaksanakan dengan cara-cara komunikasi satu arah, seperti ; ceramah, penguasaan kemampuan membaca dan sebagainya. Pada proses andragogi, cara-cara yang ditempuh lebih bersifat diskusi kelompok, simulasi, permainan peran dan lain-lain. Dalam proses seperti itu, maka semua pengalaman peserta didik dapat didayagunakan sebagai sumber belajar.
3. Kesiapan Belajar
Perbedaan ketiga antara pedagogi dan andragogi adalah dalam hal pemilihan isi pelajaran. Dalam pendekatan pedagogi, gurulah yang memutuskan isi pelajaran dan bertanggung jawab terhadap proses pemilihannya, serta kapan waktu hal tersebut akan diajarkan. Dalam pendekatan andragogi, peserta didiklah yang memutuskan apa yang akan dipelajarinya berdasarkan kebutuhannya sendiri. Guru sebagai fasilitator.
4. Nirwana Waktu dan Arah Belajar
Pendidikan seringkali dipandang sebagai upaya mempersiapkan anak didik untuk masa depan. Dalam pendekatan andragogi, belajar dipandang sebagai suatu proses pemecahan masalah ketimbang sebagai proses pemberian mata pelajaran tertentu. Karena itu, andragogi merupakan suatu proses penemuan dan pemecahan masalah nyata pada masa kini. Arah pencapaiannya adalah penemuan suatu situasi yang lebih baik, suatu tujuan yang sengaja diciptakan, suatu pengalaman pribadi, suatu pengalaman kolektif atau suatu kemungkinan pengembangan berdasarkan kenyataan yang ada saat ini. Untuk menemukan “dimana kita sekarang” dan “kemana kita akan pergi”, itulah pusat kegiatan dalam proses andragogi. Maka belajar dalam pendekatan andragogi adalah berarti “memecahkan masalah hari ini”, sedangkan pada pendekatan pedagogi, belajar itu justru merupakan proses pengumpulan informasi yang sedang dipelajari yang akan digunakan suatu waktu kelak.
C. Langkah-langkah Pelaksanaan Andragogi
Langkah-langkah kegiatan dan pengorganisasian program pendidikan yang menggunakan asas-asas pendekatan andragogi, selalu melibatkan tujuh proses sebagai berikut :
1. Menciptakan iklim untuk belajar
2. Menyusun suatu bentuk perencanaan kegiatan secara bersama dan saling membantu
3. Menilai atau mengidentifikasikan minat, kebutuhan dan nilai-nilai
4. Merumuskan tujuan belajar
5. Merancang kegiatan belajar
6. Melaksanakan kegiatan belajar
7. Mengevaluasi hasil belajar (menilai kembali pemenuhan minat, kebutuhan dan pencapaian nilai-nilai.
Andragogi dapat disimpulkan sebagai :
1. Cara untuk belajar secara langsung dari pengalaman
2. Suatu proses pendidikan kembali yang dapat mengurangi konflik-konflik sosial, melalui kegiatan-kegiatan antar pribadi dalam kelompok belajar itu
3. Suatu proses belajar yang diarahkan sendiri, dimana kira secara terus menerus dapat menilai kembali kebutuhan belajar yang timbul dari tuntutan situasi yang selalu berubah.
D. Prinsip-prinsip Belajar untuk Orang Dewasa
1. Orang dewasa belajar dengan baik apabila dia secara penuh ambil bagian dalam kegiatan-kegiatan
2. Orang dewasa belajar dengan baik apabila menyangkut mana yang menarik bagi dia dan ada kaitan dengan kehidupannya sehari-hari.
3. Orang dewasa belajar sebaik mungkin apabila apa yang ia pelajari bermanfaat dan praktis
4. Dorongan semangat dan pengulangan yang terus menerus akan membantu seseorang belajar lebih baik
5. Orang dewasa belajar sebaik mungkin apabila ia mempunyai kesempatan untuk memanfaatkan secara penuh pengetahuannya, kemampuannya dan keterampilannya dalam waktu yang cukup
6. Proses belajar dipengaruhi oleh pengalaman-pengalaman lalu dan daya pikir dari warga belajar
7. Saling pengertian yang baik dan sesuai dengan ciri-ciri utama dari orang dewasa membantu pencapaian tujuan dalam belajar.
E. Karakteristik Warga Belajar Dewasa
1. Orang dewasa mempunyai pengalaman-pengalaman yang berbeda-beda
2. Orang dewasa yang miskin mempunyai tendensi, merasa bahwa dia tidak dapat menentukan kehidupannya sendiri.
3. Orang dewasa lebih suka menerima saran-saran dari pada digurui
4. Orang dewasa lebih memberi perhatian pada hal-hal yang menarik bagi dia dan menjadi kebutuhannya
5. Orang dewasa lebih suka dihargai dari pada diberi hukuman atau disalahkan
6. Orang dewasa yang pernah mengalami putus sekolah, mempunyai kecendrungan untuk menilai lebih rendah kemampuan belajarnya
7. Apa yang biasa dilakukan orang dewasa, menunjukkan tahap pemahamannya
8. Orang dewasa secara sengaja mengulang hal yang sama
9. Orang dewasa suka diperlakukan dengan kesungguhan iktikad yang baik, adil dan masuk akal
10. Orang dewasa sudah belajar sejak kecil tentang cara mengatur hidupnya. Oleh karena itu ia lebih suka melakukan sendiri sebanyak mungkin
11. Orang dewasa menyenangi hal-hal yang praktis
12. Orang dewasa membutuhkan waktu lebih lama untuk dapat akrab dan menjalon hubungan dekat dengan teman baru.
F. Karakteristik Pengajar Orang Dewasa
Seorang pengajar orang dewasa haruslah memenuhi persyaratan berikut :
1. Menjadi anggota dari kelompok yang diajar
2. Mampu menciptakan iklim untuk belajar mengajar
3. Mempunyai rasa tanggung jawab yang tinggi, rasa pengabdian dan idealisme untuk kerjanya
4. Menirukan/mempelajari kemampuan orang lain
5. Menyadari kelemahannya, tingkat keterbukaannya, kekuatannya dan tahu bahwa di antara kekuatan yang dimiliki dapat menjadi kelemahan pada situasi tertentu.
6. Dapat melihat permasalahan dan menentukan pemecahannya
7. Peka dan mengerti perasaan orang lain, lewat pengamatan
8. Mengetahui bagaimana meyakinkan dan memperlakukan orang
9. Selalu optimis dan mempunyai iktikad baik terhadap orang
10. Menyadari bahwa “perannya bukan mengajar, tetapi menciptakan iklim untuk belajar”
11. Menyadari bahwa segala sesuatu mempunyai segi negatif dan positif.
(lebih jauh tentang ini silakan buka di andragogi.com).
Proses andragogi ini bisa dijelaskan secara sederhana dalam sebuah aktifitas daur belajar :
1. Melakukan / mengalami
2. Mengungkapkan
3. Mengolah / menganalisa
4. Menyimpulkan
5. Menerapkan
Dari proses Daur belajar tersebut kita bisa melihat bahwa andragogi adalah sebuah proses pembelajaran yang menghasilkan sebuah karya atau aktifitas. Proses pembelajaran andragogi adalah sebuah proses pembelajaran yang membuat manusia bergerak. Dengan kata lain, andragogi merangsang sebuah pendidikan untuk menjadi sebuah proses yang transformative (lihat paolo preire ? )
Pendekatan andragogi memiliki hubungan pula dengan dua pandangan teoritis tujuan pendidikan. Yang pertama bertujuan kepada masyarakat yaitu menganggap pendidikan sebagai sarana utama dalam menciptakan rakyat yang baik, baik untuk system pemerintahan demokratis maupun monarki dan lainnya. Sedang yang kedua berorientasi kepada individu, yang lebih memfokuskan diri pada kebutuhan, daya tamping, dan minat pelajar.
Tujuan yang pertama telah menyebabkan “penyakit diploma” (diploma disease) yakni usaha pendidikan bukan untuk pendidikan itu sendiri tapi untuk gelar (penulis lebih sering menyebutnya sebagai impotensi pendidikan). Inilah yang menyebabkan kebingungan dalam ilmu pengetahuan dan kekacauan. Implikasi jauhnya adalah mengembangkan sekularisme karena mencari ilmu kemudian tidak lagi untuk mencari Ridho Allah.
Sedang dalam pendekata yang kedua, pendidikan itu berorientasi individu untuk mengembangkan kepribadian peserta didik. Pendidikan yang berorientasi kepada individu inilah yang benar karena sesuai dengan konsep tentang ilmu itu sendiri (lebih jauh baca buku “Filsafat dan Praktik Pendidikan Islam Syed M. Naquib Al-Attas” (Wan Mohd Nor Wan Daud, khususnya Bab tentang makna dan tujuan pendidikan) Dalam hal ini, andragogi lebih mendekati teori yang kedua daripada yang pertama.
Imam Al Ghazali menjelaskan tujuan pendidikan itu menjadi tiga. Pertama untuk ilmu dan perkembangan ilmu, menguasai dan mengajarkan ilmu. Kedua untuk menyempurnakan akhlaq, sebagaimana Rasulullah diutus untuk menyempurnakan akhlaq manusia. Ketiga untuk mendpatkan kebahagiaan di dunia dan akhirat. Dan jelas, untuk mendapatkan tujuan pendidikan tersebut, orientasi pendidikan harus kepada individu.
Andragogi, bukan berarti sama sekali tidak ada transfer ilmu dari seorang guru kepada murid. Transfer ilmu itu harus dan tetap dilakukan, namun ketika manusia sudah mencapai saat al-aqil (berakal sempurna) setelah sebelumnya al-tamziz (mampu membedakan yang baik dan benar) dan al-hifl (masa berlatih). Maka sebenarnya manusia sudah mempunyai kekuatan untuk memutuskan dan bertanggung jawab terhadap putusannya tersebut. Manusia dalam masa itu (al-aqil) sudah bertanggungjawab terhadap dirinya sendiri. Maka dari itu, manusia harus menyadari tentang kemandiriannya sebagai seorang individu. Maka dalam hal ini Andragogi lebih diterima daripada pendekatan pedagogi (pembelajaran orang kecil).
Dengan kata lain andragogi membuat proses pembelajaran sebagai sebuah solusi atas situasi yang dihadapainya. Hal ini, memiliki kedekatan dengan apa yang dilakukan dalam dakwah Rasulullah SAW kepada para sahabat dan bagaimana wahyu diturunkan oleh Allah SWT (yang memiliki asbabun al nuzul). Dan perlulah diketahui, bahwa situasi yang paling dekat dengan manusia itu adalah kematiannya. Maka dari sinilah sebuah pendidikan dikembangkan.
EKOSFERIS
Dalam tulisannya H.A.R. Tilaar yang berjudul “Tinjauan Pedagogis Mengenai Pemuda : Suatu Pendekatn Ekosferis (dalam buku “Pemuda dan Perubahan Sosial” editor Taufik Abdullah)
Dijelaskan : “Dalam Bahasa Inggris isltilah ekosferis terdiri dari dua kata : “ecology” dan “sphere”. “Ecology” berasal dari bahasa Yunani “oikos” yang berarti rumah. Istilah ini sangat popular dalam biologi sebagai suatu cabang ilmu pengetahuan yang menelti hubungan antara organism dengan lingkungannya. Dalam sosiologi Istilah ini sering pula dipergunakan untuk menggambarkan hubungan antara distribusi kelompok-kelompok manusia dengan lingkungan alamiahnya serta konsekwensi pola-pola social dan kebudayaan yang muncul dari interaksi itu. “sphere” berarti tempat atau daerah tindakan atau keberadaan. Dalam tulisan ini, penulis mencoba menerapkan pengertian ekosfir dalam paedagogik sebagai suatu pola pendekatan yang melihat kepemudaan sebagai suatu bagian yang dinamis dari wawasan kehidupan manusia.
Ada dua asumsi dalam melihat kepemudaan
1. Mengenai proses perkembangan yang frgamentaris, tidak kontinum. Ibarat pulau yang terasing, pemuda adalah sesuatu yang ada dalam bagiannya sendiri. Sebagai sebuah peralihan kejiwaan. Aktifitasnya adalah penyaluran energy berlebih. Pemuda tetap berada dalam baying-bayang generasi tua.
2. Mengenai posisi pemuda dalam arahan kehidupan. Ialah mereka yang berada dibelakang kemapanan tradisi pemikiran generasi tua. Pemuda adalah obyek, orang tua adalah subyek. Sehingga masyarakat menjadi terisolir dan statis.
Pendekatan ekosferis tidak memandang pemuda sebagaimana dua asumsi diatas. Pemuda adalah subjek yang beriteraksi dalam sebuah lingkungan dan terdapat unsur tujuan yang menjadi pengaarh dinamika dalam lingkungan itu. Pemuda, anak-anak maupun orang tua adalah sebuah totalitas kehidupan. Kedewasaan tidak ditentukan usia, tapi ditentukan oleh pencapaian setiap individu dalam menghadapi. Maka dalam hal ini, semuanya bertanggung jawab untuk menjaga keselamatan, kesejahteraan, dan keberlanjutan generasi sekarang dan yang akan datang.
Dalam tulisan H.A.R. Tilaar disebutkan tentang krisis ekosferis yang melanda, diantaranya terkait dengan nilai; konsep tentang (kesepakatan) hidup yang baik; erosi kredibilitas; ketiadaan pegangan masa depan; kesaratan lembaga-lembaga social.
TENTANG TA’DIB, TAKLIM DAN TARBIYAH
Mengenai ta’dib, taklim dan tarbiyah belum sempat ditulis. Lihat buku refrensi halaman 175-188.
KONSEP EKOSFERIS DAN ANDRAGOGI DALAM IPF.
Islamisasi ilmu pengetahuan kontemporer menempatkan pemuda/ orang dewasa sebagai subyek. Oleh karena itulah, memulai prose situ dari orang dewasa dahulu, tepatnya dari universitas. Dan mahasiswa dalam pandangan ekosferis, tidak ditentukan oleh orang tua/generasi tua. Maka, apa yang kita/IPF lakukan meskipun berbeda dari orang tua maka itu adalah sesuatu yang bukan masalah. IPF menempatkan ekosferis dan andragogi ini sebagai basis berfikirnya.
Pendekatan andragogi membuat IPF menamakan tim fasilitator untuk pengelola satuan kegiatan. Bukan guru atau pemateri, karena itu berkaitan dengan kemampuan dan proses yang akan dilalui oleh IPF dalam kerangka peningkatan kapasitasnya. IPF adalah sesuatu yang terbatas, sehingga otomatis dalam keterbatasan tersebut IPF harus bergerak dan untuk itulah pendekatan ekosferis in menjadi sangat bermakna. Konsep sinergisitas beranjak dari pendekatan ekosferis ini.
Berangkat dari keyakinan diri ini akan kesempurnaan Ad Dinul Islam maka penulis akan menyoroti masalah sekularisme dan dampaknya terhadap ilmu pengetahuan. Islam adalah ajaran yang sempurna seperti firman Allah dalam Quranul Surat Al Maidaah ayat 3. Berangkat dari ayat ini kita dapat melihat Allah telah menyempurnakan Islam bagi kehidupan manusia baik dalam pandangan hidup, tata aturan masyarakat dan begitu pula konsepsi akan ilmu pengetahuan. Sehingga melihat landasan ini sudah sepantasnya tertanam di dalam dada kaum muslim bahwa kesempurnaan Islam adalah sesuatu hal yang absolut sesuai dengan firman Allah SWT di atas.
Secara bahasa istilah sekularisme berasal dari kata saeculum yang memiliki dua dimensi, yang pertama adalah dimensi ruang dengan pengertian di sini dan yang kedua adalah dimensi waktu dengan pengertian saat ini. Sekularisme memiliki pandangan akan kehidupan yang didasari akan pandangan di sini dan saat ini.
Secara makna sekularisme memiliki pandangan akan kehidupan yang memisahkan antara dunia dan akhirat, agama dan negara, akal dan wahyu, materi dan immateri, rasional dan irrasional. Sekularisme menjadi paham yang melihat sebuah realitas secara parsial dan menafikan segala sesuatu yang tidak bisa diterima secara rasional dan logis.
Sekularisme berkembang dari aliran filsafat Yunani yang diawali oleh pemikiran salah satu filsuf Yunani, Aristoteles. Aristoteles mempunyai pemikiran bahwa Tuhan setelah menciptakan alam semesta tidak lagi mempunyai peranan dan tanggung jawab dalam perputaran alam semeseta ini. Konsepsi Tuhan dalam pemikiran Aristoteles terpisah jauh dari realitas alam semesta sehingga memunculkan pandangan akan ketidak absolutan Tuhan. Pandangan ini akan menafikan realitas kekuasaan Tuhan dalam kehidupan alam semesta, khususnya manusia dan menyebabkan lahirnya pandangan pemisahan antara kekuasaan Tuhan dan kehidupan manusia.
Sekularisme juga dapat dilihat dari berkembangnya aliran pemikiran rasionalisme yang menafikan sesuatu yang diluar pemahaman akal. Dalam pandangan rasionalisme, segala sesuatu yang diluar pemahaman akal manusia dinyatakan bukan sebagai sesuatu realitas dan diyakini ketiadaannya. Pandangan ini menilai sesuatu yang nyata adalah segala sesuatu yang dapat dicerna melalui indera manusia yaitu dapat dilihat, didengar, diraba, dibaui, dan dirasakan. Apabila dalam proses penginderaan sesuatu tidak dapat ditangkap realitasnya maka konsepsi akan hal tersebut adalah tidak nyata atau tiada. Beranjak dari pemahaman di atas maka pandangan hidup yang terbentuk dalam peradaban Yunani Kuno adalah pandangan hidup yang materialistik yang melihat bahwa realitas dunia adalah materi dan menolak immateri dalam konteks pemahaman oleh akal.
Perkembangan ilmu pengetahuan dapat ditelusuri jejaknya dari peradaban besar yang terus hadir dalam peredaran dunia ini dengan silih berganti. Peradaban Yunani-Romawi, Peradaban Islam dan masa Renaissance. Penulis berpendapat salah satu faktor dalam perkembangan peradaban tersebut adalah berkembangnya ilmu pengetahuan sebagai trigger utama. Peradaban Yunani-Rumawi sebagai salah satu bangsa pionir dalam perkembangan ilmu pengetahuan tentu mempunyai andil dalam menyebarkan pemahaman yang materialistik dan rasionalistik.
Perkembangan peradaban Islam juga disinyalir mendapatkan pengaruh dari filsafat dan pemikiran Yunani-Romawi yang diterjemahkan oleh cendekiawan muslim ke dalam bahasa Arab. Tokoh utama dalam penerjemahan tersebut adalah Ibnu Rusyd atau di Barat disebut Averroes. Ibnu Rusyd menerjemahkan karya Plato dan Aristoteles, dan setelahnya dunia Islam melakukan aktivitas dalam dunia intelektual dengan kecepatan yang mengagumkan.
Dan adanya hubungan antara peradaban Islam dengan masa Renaissance di Barat juga diawali oleh adanya interaksi antara dunia Islam dengan dunia Barat. Diawali oleh perang Salib, interaksi sosial-budaya dan terjadinya transfer ilmu pengetahuan melalui penerjemahan karya-karya intelektual muslim oleh orang-orang Eropa, salah satu tokohnya adalah Edward dari Cremona. Kemudian muncullah budaya intelektual di Eropa abad pertengahan dengan Italia sebagai pusatnya. Tetapi ada satu hal yang berbeda dalam perkembangan ilmu pengetahuan di masa masuknya filsafat ke dalam peradaban Islam. Intelektual muslim mencoba merespon masuknya filsafat dengan melakukan proses penyaringan,penyeleksian dan pemilihan yang sesuai dengan nilai-nilai Islam.
Dalam pandangan penulis, Islam memiliki penilaian yang berbeda akan dunia dan alam semesta. Penulis berpendapat alam semesta adalah mahluk ciptaan Allah SWT yang terikat dengan hukum dan segala aturan milik-Nya. Begitu pula dalam melihat manusia, penulis melihat manusia sebagai mahluk Allah yang diberikan kewajiban untuk memakmurkan bumi. Al Baqoroh ayat 30.
Dalam menilai sebuah realitas penulis berpendapat tidak semua hal yang tidak dapat ditangkap oleh panca indera adalah tidak nyata atau tidak ada. Penulis menilai ini disebabkan oleh keterbatasan panca indera dari manusia itu sendiri. Manusia hanya memiliki kemampuan penginderaan sesuai dengan yang diberikan oleh Allah kepada manusia. Bayangkan jika kita memiliki kemampuan penglihatan atau pendengaran yang lebih daripada saat ini dimana kita dapat melihat ataupun mendengar segala sesuatu yang berada dalam radius 1 kilometer, baik terhalang bangunan ataupun tidak. Penulis menganggap akan terjadi keguncangan dalam diri manusia dikarenakan ketidakmampuan manusia dalam menanggung beban tersebut.
Dengan pemahaman bahwa manusia adalah mahluk Allah yang terikat dengan hukum-hukum-Nya, penulis beranggapan bahwa sudah selayaknya kita menolak konsep Sekularisasi dan Sekularisme. Pemahaman yang sekuler akan menyebabkan ketimpangan dalam kehidupan dan mendorong pandangan yang materialistik. Pandangan ini akan berpengaruh dalam segala bentuk kehidupan kita yang menyebabkan kita tidak dapat mewujudkan harapan kita akan Syumuliatul Islam. Padahal kita ingat, dunia ini hanyalah perjalanan dan tempat kembali kita adalah akhirat…
Oleh. Adi Nuansa Wibisono
Muslim, artinya orang yang berserah diri. Yakni orang yang berserah diri terhadap keputusan Allah dan Rasulnya. Artinya ia adalah seorang manusia yang tunduk, patuh dan menyerah terhadap apapun yang diputuskan oleh Allah dan Rasulnya. Yakni yang beriman kepada Al-quran dan Syariat Allah. Dan itulah kemulian seorang muslim, bahwasannya (jalan/syariat/system) Islam adalah tinggi dan tidak ada yang lebih tinggi darinya (Al Islam yu’la wa la ya’lu ilaih).
Dari pengertian itu, maka seharusnya dan menjadi kewajiban adalah Islam menempati posisi paling tinggi dimanapun dan kapanpun. Islam tidak bisa lebih rendah dari Negara, justru Islam yang seharusnya mengatur Negara. Begitupun tidak bisa pikiran dan keinginan manusia lebih tinggi dari (peraturan) Islam, justru keduanya harus mengikuti peraturan Islam. Meskipun secara emosi atau logika tidak bisa menerimanya ketika itu. Maka, suatu masalah adalah apabila itu tidak terjadi. Pada dasarnya itulah hakekat permasalahan ummat Islam dewasa ini. Baik itu kemiskinan maupun kebodohan.
Permasalahan dunia Islam hari ini sangat kompleks, banyak sekali dan sulit dipahami secara sembarangan. Untuk itulah, dalam tulisan ini pendekatan sejarah dan psikologi akan digunakan untuk menunjukannya. Hingga akhirnya, bisa lebih memahami mengapa semua masalah tersebut bisa terjadi.
Ummat Islam, telah melewati empat belas abad semenjak Rasullullah diutus oleh Allah SWT. Dari empat belas abad itu, Islam menjadi sebuah peradaban yang gemilang didalam dunia. Dunia diterangi olehnya dan dunia mendapatkan manfaat darinya. Meski tidak 100 persen sebagaimana yang dicontohkan secara keseluruhan dalam kehidupan Rasulullah dan para sahabatnya, hingga awal abad 20 Islam di dunia menjadi sebuah kekuatan yang bisa mengatur dan memimpin dunia dengan ajarannya yang komprehensif dan utuh (tidak ada kerancuan dan pertentangan sedikitpun).
Hingga, dengan ditandai keruntuhan khilafah pada tahun 1924 Islam di dunia benar benar terpuruk dan tidak mendapatkan tempat di dunia sebagaimana apa yang telah dibangun 13 abad sebelumnya. Baik secara politik, ekonomi, budaya, militer, dan begitu pula dengan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dan justru, segala keterpurukan itu semata tidak karena penyerangan yang dilakukan oleh orang kafir. Tapi juga didukung oleh orang-orang yang mengaku sebagai seorang muslim. Mereka mendukung penjajah kafir dengan menempatkan Islam tidak sebagai yu’la wa la ya’lu ilaih. Tapi mereka menempatkan Islam dibawah yang lainnya.
Misalkan mereka menempatkan hukum yang dibuat oleh akal dan disepakati oleh mayoritas manusia yang ada di negeri tersebut lebih tinggi dari Islam. Bahkan, mereka mengatakan bahwa Islam itu tidak bisa dan tidak mempunyai aturan tentang itu. Mereka tidak mengetahui, bahkan lebih parah dari itu, mereka tidak mengetahui bahwa mereka tidak mengetahui. Inilah yang bisa menjadi penjelasan mengapa ummat Islam mengalami kondisi seperti dewasa ini.
Marilah kita simak pernyataan berikut yang menjelaskan bagaimana semua itu bisa terjadi di dalam diri ummat Islam sendiri :
1. Kebingungan dan kekeliruan persepsi mengenai ilmu pengetahuan, yang selanjutnya menciptakan:
2. Ketiadaan adab dalam masyarakat. Akibat yang timbul dari poin pertama dan kedua adalah:
3. Munculnya pemimpin yang bukan saja tidak layak memimpin ummat, melainkan juga tidak memiliki akhlak yang luhur dan kapasitas intelektual dan spiritual mecukupi, yang sangat diperlukan dalam kepemimpinan Islam. Mereka akan mempertahankan kondisi yang disebut dalam poin pertama di atas dan akan terus mengontrol permaslahan-permasalahan social-kemasyarakatan melalui tangan para pemimpin lain yang berwatak sama dengan mereka dan mendominasi berbagai sektor kehidupan
Semua itu bisa terjadi karena ummat Islam menjadi sebuah bangsa yang kalah yang mengikuti bangsa yang menang (yakni para penjajah dan Barat). Ibnu Khaldun menjelaskan dalam buku muqodimahnya : ”sebabnya ialah karena jiwa selalu melihat sempurna orang yang menaklukan jiwa itu oleh orang yang ditundukannya. Jiwa melihat orang tersebut sempurna, karena jiwa itu dipengaruhi oleh hormatnya jiwa kepada dia, atau karena jiwa itu berasumsi salah yaitu bahwa tunduk patuhnya kepada orang tersebut bukanlah suatu kesalahan menurut alam, akan tetapi karena kesempurnaan yang menaklukannya. Apabila asumsi yang salah tersebut telah melekat sendiri didalam jiwa, maka itu akan membentuk keyakinan. Maka, jiwa pun mengadopsi seluruh prilaku dan tindak-tanduk orang yang menang dan mengasimilasikan diri dengannya. Inilah yang disebut dengan tiruan itu” .
Barat, sebagai bangsa yang menang memaksa negeri negeri muslim untuk mengakui keunggulan mereka yang tidak unggul. Hal itu mereka lakukan melalui berbagai cara dan jalan. Salah satunya di Indonesia ialah melalui politik etis yang bertujuan untuk melakukan unifikasi, asosiasi dan asimilasi (pribumi muslim) terhadap negeri penjajah. Akhirnya mereka menganggap bahwa Barat lebih unggul daripada Islam, dan Islam tidak mempunyai aturan tentang sesuatu yang mereka butuhkan. Atau menganggap Islam itu kuno dan usang. Hingga mereka menempatkna Islam sebatas dalam masalah pribadi dan pergaulan saja.
Bila kita tinjau dari sudut lain, itu bisa pula dinamakan sebagai sebuah gerakan orientalisme. Yakni sebuah gerakan berkedok ilmiah yang berusaha menanamkan jiwa kekalahan pada diri kaum muslimin. ” Tradisi ilmiah ini, yang kemudian mulai diragukan kebenaran dan keilmiahannya, berusaha menanamkan dalam pikiran orang-orang, termasuk para pemuda Indonesia yang berpendidikan Barat, pengertian bahwa Barat dan segala ajarannya itu adalah lambang kemajuan dan kemodernan, sedangkan Islam dan ajarannya adalah lambang kemunduran, kekolotan, dan keterbelakangan. Kemudian ternyata bahwa pendapat seperti ini dapat pula berfungsi sebagai alat untuk mempengaruhi diri sendiri. Akibatnya orang-orang yang berpendidikan Barat di Indonesia benar-benar merasa dirinya maju dan modern, sedangkan orang-orang yang berpengetahuan Islam benar-benar pula merasa bahwa diri mereka itu mundur, kolot dan terbelakang” .
Inilah dampak secara psikologis yang diterima oleh sebagian ummat Islam ketika mereka melihat bahwa Barat telah mengalami kemajuan yang pesat dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Begitu pun dengan keteraturan sosial mereka dan kebersihan mereka. Padahal, betapapun mereka kuat dan terlihat sangat menarik, kenyataannya mereka berada pada ranting yang sangat rapuh. Sebagaimana yang kita lihat sekarang, kaum gay di beberapa negara Barat sudah dilegalkan dan diakui. Begitupun dengan praktek prostitusi dan judi, sudah sejak lama mereka jadikan sebagai bisnis yang memberikan keuntungan besar. Bukan hanya itu, alam pun mereka rusak dengan cara mengekploitasi secara serakah seperti halnya yang dilakukan PT Prefort milik Amerika di Papua. Besok, entah apa lagi yang akan terjadi dan dialami oleh ummat manusia dan peradabannya.
Dari hal inilah kita bisa melihat bahwa permasalahan ummat Islam hari ini merupakan suatu masalah yang memang memiliki akar yang sangat panjang dan mendalam. Sehingga, seperti seorang yang mempunyai rumah di pinggir sungai, kemudian dilihatnya sungai itu penuh dengan anak kecil yang terhanyut. Maka orang tersebut tidak bisa menolong anak kecil yang terhanyut itu di sungai di depan rumahnya. Banyak kemungkinan terjadi, bisa jadi sudah mati atau tidak bisa menolong semuanya. Maka kemudian orang tersebut menyusuri sungai itu dan mencari sebab mengapa itu bisa terjadi. Apabila sekian anak kecil yang banyak itu jatuh ke sungai karena dilakukan secara sengaja oleh seseorang, maka ia harus menghentikan orang itu untuk tidak melakukan hal tersebut dan menyelamatkan lebih banyak anak yang akan dihanyutkan. Dan inilah kurang lebih yang bisa kita lakukan.
Meskipun mungkin terlihat kejam bahwa kita tidak menolong anak kecil yang terhanyut didepan mata kita. Tapi setelah kita tahu ternyata anak kecil yang terhanyut itu terus menerus ada. Maka itu bukan kecelakaan, tapi itu ada pelaku dan kesengajaan. Dan menghentikan pelaku itulah yang sangat penting sehingga tidak ada lagi anak kecil yang dihanyutkan, bukan hanya sekedar terhanyut. Wallahu ‘alam.
Oleh Randi Muchariman