Berangkat dari keyakinan diri ini akan kesempurnaan Ad Dinul Islam maka penulis akan menyoroti masalah sekularisme dan dampaknya terhadap ilmu pengetahuan. Islam adalah ajaran yang sempurna seperti firman Allah dalam Quranul Surat Al Maidaah ayat 3. Berangkat dari ayat ini kita dapat melihat Allah telah menyempurnakan Islam bagi kehidupan manusia baik dalam pandangan hidup, tata aturan masyarakat dan begitu pula konsepsi akan ilmu pengetahuan. Sehingga melihat landasan ini sudah sepantasnya tertanam di dalam dada kaum muslim bahwa kesempurnaan Islam adalah sesuatu hal yang absolut sesuai dengan firman Allah SWT di atas.
Secara bahasa istilah sekularisme berasal dari kata saeculum yang memiliki dua dimensi, yang pertama adalah dimensi ruang dengan pengertian di sini dan yang kedua adalah dimensi waktu dengan pengertian saat ini. Sekularisme memiliki pandangan akan kehidupan yang didasari akan pandangan di sini dan saat ini.
Secara makna sekularisme memiliki pandangan akan kehidupan yang memisahkan antara dunia dan akhirat, agama dan negara, akal dan wahyu, materi dan immateri, rasional dan irrasional. Sekularisme menjadi paham yang melihat sebuah realitas secara parsial dan menafikan segala sesuatu yang tidak bisa diterima secara rasional dan logis.
Sekularisme berkembang dari aliran filsafat Yunani yang diawali oleh pemikiran salah satu filsuf Yunani, Aristoteles. Aristoteles mempunyai pemikiran bahwa Tuhan setelah menciptakan alam semesta tidak lagi mempunyai peranan dan tanggung jawab dalam perputaran alam semeseta ini. Konsepsi Tuhan dalam pemikiran Aristoteles terpisah jauh dari realitas alam semesta sehingga memunculkan pandangan akan ketidak absolutan Tuhan. Pandangan ini akan menafikan realitas kekuasaan Tuhan dalam kehidupan alam semesta, khususnya manusia dan menyebabkan lahirnya pandangan pemisahan antara kekuasaan Tuhan dan kehidupan manusia.
Sekularisme juga dapat dilihat dari berkembangnya aliran pemikiran rasionalisme yang menafikan sesuatu yang diluar pemahaman akal. Dalam pandangan rasionalisme, segala sesuatu yang diluar pemahaman akal manusia dinyatakan bukan sebagai sesuatu realitas dan diyakini ketiadaannya. Pandangan ini menilai sesuatu yang nyata adalah segala sesuatu yang dapat dicerna melalui indera manusia yaitu dapat dilihat, didengar, diraba, dibaui, dan dirasakan. Apabila dalam proses penginderaan sesuatu tidak dapat ditangkap realitasnya maka konsepsi akan hal tersebut adalah tidak nyata atau tiada. Beranjak dari pemahaman di atas maka pandangan hidup yang terbentuk dalam peradaban Yunani Kuno adalah pandangan hidup yang materialistik yang melihat bahwa realitas dunia adalah materi dan menolak immateri dalam konteks pemahaman oleh akal.
Perkembangan ilmu pengetahuan dapat ditelusuri jejaknya dari peradaban besar yang terus hadir dalam peredaran dunia ini dengan silih berganti. Peradaban Yunani-Romawi, Peradaban Islam dan masa Renaissance. Penulis berpendapat salah satu faktor dalam perkembangan peradaban tersebut adalah berkembangnya ilmu pengetahuan sebagai trigger utama. Peradaban Yunani-Rumawi sebagai salah satu bangsa pionir dalam perkembangan ilmu pengetahuan tentu mempunyai andil dalam menyebarkan pemahaman yang materialistik dan rasionalistik.
Perkembangan peradaban Islam juga disinyalir mendapatkan pengaruh dari filsafat dan pemikiran Yunani-Romawi yang diterjemahkan oleh cendekiawan muslim ke dalam bahasa Arab. Tokoh utama dalam penerjemahan tersebut adalah Ibnu Rusyd atau di Barat disebut Averroes. Ibnu Rusyd menerjemahkan karya Plato dan Aristoteles, dan setelahnya dunia Islam melakukan aktivitas dalam dunia intelektual dengan kecepatan yang mengagumkan.
Dan adanya hubungan antara peradaban Islam dengan masa Renaissance di Barat juga diawali oleh adanya interaksi antara dunia Islam dengan dunia Barat. Diawali oleh perang Salib, interaksi sosial-budaya dan terjadinya transfer ilmu pengetahuan melalui penerjemahan karya-karya intelektual muslim oleh orang-orang Eropa, salah satu tokohnya adalah Edward dari Cremona. Kemudian muncullah budaya intelektual di Eropa abad pertengahan dengan Italia sebagai pusatnya. Tetapi ada satu hal yang berbeda dalam perkembangan ilmu pengetahuan di masa masuknya filsafat ke dalam peradaban Islam. Intelektual muslim mencoba merespon masuknya filsafat dengan melakukan proses penyaringan,penyeleksian dan pemilihan yang sesuai dengan nilai-nilai Islam.
Dalam pandangan penulis, Islam memiliki penilaian yang berbeda akan dunia dan alam semesta. Penulis berpendapat alam semesta adalah mahluk ciptaan Allah SWT yang terikat dengan hukum dan segala aturan milik-Nya. Begitu pula dalam melihat manusia, penulis melihat manusia sebagai mahluk Allah yang diberikan kewajiban untuk memakmurkan bumi. Al Baqoroh ayat 30.
Dalam menilai sebuah realitas penulis berpendapat tidak semua hal yang tidak dapat ditangkap oleh panca indera adalah tidak nyata atau tidak ada. Penulis menilai ini disebabkan oleh keterbatasan panca indera dari manusia itu sendiri. Manusia hanya memiliki kemampuan penginderaan sesuai dengan yang diberikan oleh Allah kepada manusia. Bayangkan jika kita memiliki kemampuan penglihatan atau pendengaran yang lebih daripada saat ini dimana kita dapat melihat ataupun mendengar segala sesuatu yang berada dalam radius 1 kilometer, baik terhalang bangunan ataupun tidak. Penulis menganggap akan terjadi keguncangan dalam diri manusia dikarenakan ketidakmampuan manusia dalam menanggung beban tersebut.
Dengan pemahaman bahwa manusia adalah mahluk Allah yang terikat dengan hukum-hukum-Nya, penulis beranggapan bahwa sudah selayaknya kita menolak konsep Sekularisasi dan Sekularisme. Pemahaman yang sekuler akan menyebabkan ketimpangan dalam kehidupan dan mendorong pandangan yang materialistik. Pandangan ini akan berpengaruh dalam segala bentuk kehidupan kita yang menyebabkan kita tidak dapat mewujudkan harapan kita akan Syumuliatul Islam. Padahal kita ingat, dunia ini hanyalah perjalanan dan tempat kembali kita adalah akhirat…
Oleh. Adi Nuansa Wibisono