Muslim, artinya orang yang berserah diri. Yakni orang yang berserah diri terhadap keputusan Allah dan Rasulnya. Artinya ia adalah seorang manusia yang tunduk, patuh dan menyerah terhadap apapun yang diputuskan oleh Allah dan Rasulnya. Yakni yang beriman kepada Al-quran dan Syariat Allah. Dan itulah kemulian seorang muslim, bahwasannya (jalan/syariat/system) Islam adalah tinggi dan tidak ada yang lebih tinggi darinya (Al Islam yu’la wa la ya’lu ilaih).
Dari pengertian itu, maka seharusnya dan menjadi kewajiban adalah Islam menempati posisi paling tinggi dimanapun dan kapanpun. Islam tidak bisa lebih rendah dari Negara, justru Islam yang seharusnya mengatur Negara. Begitupun tidak bisa pikiran dan keinginan manusia lebih tinggi dari (peraturan) Islam, justru keduanya harus mengikuti peraturan Islam. Meskipun secara emosi atau logika tidak bisa menerimanya ketika itu. Maka, suatu masalah adalah apabila itu tidak terjadi. Pada dasarnya itulah hakekat permasalahan ummat Islam dewasa ini. Baik itu kemiskinan maupun kebodohan.
Permasalahan dunia Islam hari ini sangat kompleks, banyak sekali dan sulit dipahami secara sembarangan. Untuk itulah, dalam tulisan ini pendekatan sejarah dan psikologi akan digunakan untuk menunjukannya. Hingga akhirnya, bisa lebih memahami mengapa semua masalah tersebut bisa terjadi.
Ummat Islam, telah melewati empat belas abad semenjak Rasullullah diutus oleh Allah SWT. Dari empat belas abad itu, Islam menjadi sebuah peradaban yang gemilang didalam dunia. Dunia diterangi olehnya dan dunia mendapatkan manfaat darinya. Meski tidak 100 persen sebagaimana yang dicontohkan secara keseluruhan dalam kehidupan Rasulullah dan para sahabatnya, hingga awal abad 20 Islam di dunia menjadi sebuah kekuatan yang bisa mengatur dan memimpin dunia dengan ajarannya yang komprehensif dan utuh (tidak ada kerancuan dan pertentangan sedikitpun).
Hingga, dengan ditandai keruntuhan khilafah pada tahun 1924 Islam di dunia benar benar terpuruk dan tidak mendapatkan tempat di dunia sebagaimana apa yang telah dibangun 13 abad sebelumnya. Baik secara politik, ekonomi, budaya, militer, dan begitu pula dengan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dan justru, segala keterpurukan itu semata tidak karena penyerangan yang dilakukan oleh orang kafir. Tapi juga didukung oleh orang-orang yang mengaku sebagai seorang muslim. Mereka mendukung penjajah kafir dengan menempatkan Islam tidak sebagai yu’la wa la ya’lu ilaih. Tapi mereka menempatkan Islam dibawah yang lainnya.
Misalkan mereka menempatkan hukum yang dibuat oleh akal dan disepakati oleh mayoritas manusia yang ada di negeri tersebut lebih tinggi dari Islam. Bahkan, mereka mengatakan bahwa Islam itu tidak bisa dan tidak mempunyai aturan tentang itu. Mereka tidak mengetahui, bahkan lebih parah dari itu, mereka tidak mengetahui bahwa mereka tidak mengetahui. Inilah yang bisa menjadi penjelasan mengapa ummat Islam mengalami kondisi seperti dewasa ini.
Marilah kita simak pernyataan berikut yang menjelaskan bagaimana semua itu bisa terjadi di dalam diri ummat Islam sendiri :
1. Kebingungan dan kekeliruan persepsi mengenai ilmu pengetahuan, yang selanjutnya menciptakan:
2. Ketiadaan adab dalam masyarakat. Akibat yang timbul dari poin pertama dan kedua adalah:
3. Munculnya pemimpin yang bukan saja tidak layak memimpin ummat, melainkan juga tidak memiliki akhlak yang luhur dan kapasitas intelektual dan spiritual mecukupi, yang sangat diperlukan dalam kepemimpinan Islam. Mereka akan mempertahankan kondisi yang disebut dalam poin pertama di atas dan akan terus mengontrol permaslahan-permasalahan social-kemasyarakatan melalui tangan para pemimpin lain yang berwatak sama dengan mereka dan mendominasi berbagai sektor kehidupan
Semua itu bisa terjadi karena ummat Islam menjadi sebuah bangsa yang kalah yang mengikuti bangsa yang menang (yakni para penjajah dan Barat). Ibnu Khaldun menjelaskan dalam buku muqodimahnya : ”sebabnya ialah karena jiwa selalu melihat sempurna orang yang menaklukan jiwa itu oleh orang yang ditundukannya. Jiwa melihat orang tersebut sempurna, karena jiwa itu dipengaruhi oleh hormatnya jiwa kepada dia, atau karena jiwa itu berasumsi salah yaitu bahwa tunduk patuhnya kepada orang tersebut bukanlah suatu kesalahan menurut alam, akan tetapi karena kesempurnaan yang menaklukannya. Apabila asumsi yang salah tersebut telah melekat sendiri didalam jiwa, maka itu akan membentuk keyakinan. Maka, jiwa pun mengadopsi seluruh prilaku dan tindak-tanduk orang yang menang dan mengasimilasikan diri dengannya. Inilah yang disebut dengan tiruan itu” .
Barat, sebagai bangsa yang menang memaksa negeri negeri muslim untuk mengakui keunggulan mereka yang tidak unggul. Hal itu mereka lakukan melalui berbagai cara dan jalan. Salah satunya di Indonesia ialah melalui politik etis yang bertujuan untuk melakukan unifikasi, asosiasi dan asimilasi (pribumi muslim) terhadap negeri penjajah. Akhirnya mereka menganggap bahwa Barat lebih unggul daripada Islam, dan Islam tidak mempunyai aturan tentang sesuatu yang mereka butuhkan. Atau menganggap Islam itu kuno dan usang. Hingga mereka menempatkna Islam sebatas dalam masalah pribadi dan pergaulan saja.
Bila kita tinjau dari sudut lain, itu bisa pula dinamakan sebagai sebuah gerakan orientalisme. Yakni sebuah gerakan berkedok ilmiah yang berusaha menanamkan jiwa kekalahan pada diri kaum muslimin. ” Tradisi ilmiah ini, yang kemudian mulai diragukan kebenaran dan keilmiahannya, berusaha menanamkan dalam pikiran orang-orang, termasuk para pemuda Indonesia yang berpendidikan Barat, pengertian bahwa Barat dan segala ajarannya itu adalah lambang kemajuan dan kemodernan, sedangkan Islam dan ajarannya adalah lambang kemunduran, kekolotan, dan keterbelakangan. Kemudian ternyata bahwa pendapat seperti ini dapat pula berfungsi sebagai alat untuk mempengaruhi diri sendiri. Akibatnya orang-orang yang berpendidikan Barat di Indonesia benar-benar merasa dirinya maju dan modern, sedangkan orang-orang yang berpengetahuan Islam benar-benar pula merasa bahwa diri mereka itu mundur, kolot dan terbelakang” .
Inilah dampak secara psikologis yang diterima oleh sebagian ummat Islam ketika mereka melihat bahwa Barat telah mengalami kemajuan yang pesat dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Begitu pun dengan keteraturan sosial mereka dan kebersihan mereka. Padahal, betapapun mereka kuat dan terlihat sangat menarik, kenyataannya mereka berada pada ranting yang sangat rapuh. Sebagaimana yang kita lihat sekarang, kaum gay di beberapa negara Barat sudah dilegalkan dan diakui. Begitupun dengan praktek prostitusi dan judi, sudah sejak lama mereka jadikan sebagai bisnis yang memberikan keuntungan besar. Bukan hanya itu, alam pun mereka rusak dengan cara mengekploitasi secara serakah seperti halnya yang dilakukan PT Prefort milik Amerika di Papua. Besok, entah apa lagi yang akan terjadi dan dialami oleh ummat manusia dan peradabannya.
Dari hal inilah kita bisa melihat bahwa permasalahan ummat Islam hari ini merupakan suatu masalah yang memang memiliki akar yang sangat panjang dan mendalam. Sehingga, seperti seorang yang mempunyai rumah di pinggir sungai, kemudian dilihatnya sungai itu penuh dengan anak kecil yang terhanyut. Maka orang tersebut tidak bisa menolong anak kecil yang terhanyut itu di sungai di depan rumahnya. Banyak kemungkinan terjadi, bisa jadi sudah mati atau tidak bisa menolong semuanya. Maka kemudian orang tersebut menyusuri sungai itu dan mencari sebab mengapa itu bisa terjadi. Apabila sekian anak kecil yang banyak itu jatuh ke sungai karena dilakukan secara sengaja oleh seseorang, maka ia harus menghentikan orang itu untuk tidak melakukan hal tersebut dan menyelamatkan lebih banyak anak yang akan dihanyutkan. Dan inilah kurang lebih yang bisa kita lakukan.
Meskipun mungkin terlihat kejam bahwa kita tidak menolong anak kecil yang terhanyut didepan mata kita. Tapi setelah kita tahu ternyata anak kecil yang terhanyut itu terus menerus ada. Maka itu bukan kecelakaan, tapi itu ada pelaku dan kesengajaan. Dan menghentikan pelaku itulah yang sangat penting sehingga tidak ada lagi anak kecil yang dihanyutkan, bukan hanya sekedar terhanyut. Wallahu ‘alam.
Oleh Randi Muchariman