Modul materi Andragogi dan konsep Ekosferis

17 05 2008

Andragogi (berdasar tulisannya Supriadi M.Pd dalam pendidikan network)
A. Pengertian

Andragogi berasal dari dua kata dalam bahasa Yunani, yakni Andra berarti orang dewasa dan agogos berarti memimpin. Perdefinisi andragogi kemudian dirumuskan sebagai “Suatu seni dan ilmu untuk membantu orang dewasa belajar”. Kata andragogi pertama kali digunakan oleh Alexander Kapp pada tahun 1883 untuk menjelaskan dan merumuskan konsep-konsep dasar teori pendidikan Plato. Meskipun demikian, Kapp tetap membedakan antara pengertian “Social-pedagogy” yang menyiratkan arti pendidikan orang dewasa, dengan andragogi. Dalam rumusan Kapp, “Social-pedagogy” lebih merupakan proses pendidikan pemulihan (remedial) bagi orang dewasa yang cacat. Adapun andragogi, justru lebih merupakan proses pendidikan bagi seluruh orang dewasa, cacat atau tidak cacat secara berkelanjutan.

B. Andragogi dan Pedagogi

Malcolm Knowles menyatakan bahwa apa yang kita ketahui tentang belajar selama ini adalah merupakan kesimpulan dari berbagai kajian terhadap perilaku kanak-kanak dan binatang percobaan tertentu. Pada umumnya memang, apa yang kita ketahui kemudian tentang mengajar juga merupakan hasil kesimpulan dari pengalaman mengajar terhadap anak-anak. Sebagian besar teori belajar-mengajar, didasarkan pada perumusan konsep pendidikan sebagai suatu proses pengalihan kebudayaan. Atas dasar teori-teori dan asumsi itulah kemudian tercetus istilah “pedagogi” yang akar-akarnya berasal dari bahasa Yunani, paid berarti kanak-kanak dan agogos berarti memimpin. Kemudian Pedagogi mengandung arti memimpin anak-anak atau perdefinisi diartikan secara khusus sebagai “suatu ilmu dan seni mengajar kanak-kanak”. Akhirnya pedagogi kemudian didefinisikan secara umum sebagai “ilmu dan seni mengajar”.

Untuk memahami perbedaan antara pengertian pedagogi dengan pengertian andragogi yang telah dikemukakan, harus dilihat terlebih dahulu empat perbedaan mendasar, yaitu :

1. Citra Diri

Citra diri seorang anak-anak adalah bahwa dirinya tergantung pada orang lain. Pada saat anak itu menjadi dewasa, ia menjadi kian sadar dan merasa bahwa ia dapat membuat keputusan untuk dirinya sendiri. Perubahan dari citra ketergantungan kepada orang lain menjadi citra mandiri. Hal ini disebut sebagai pencapaian tingkat kematangan psikologis atau tahap masa dewasa. Dengan demikian, orang yang telah mencapai masa dewasa akan berkecil hati apabila diperlakukan sebagai anak-anak. Dalam masa dewasa ini, seseorang telah memiliki kemauan untuk mengarahkan diri sendiri untuk belajar. Dorongan hati untuk belajar terus berkembang dan seringkali justru berkembang sedemikian kuat untuk terus melanjutkan proses belajarnya tanpa batas. Implikasi dari keadaan tersebut adalah dalam hal hubungan antara guru dan murid. Pada proses andragogi, hubungan itu bersifat timbal balik dan saling membantu. Pada proses pedagogi, hubungan itu lebih ditentukan oleh guru dan bersifat mengarah.

2. Pengalaman

Orang dewasa dalam hidupnya mempunyai banyak pengalaman yang sangat beraneka. Pada anak-anak, pengalaman itu justru hal yang baru sama sekali.Anak-anak memang mengalami banyak hal, namun belum berlangsung sedemikian sering. Dalam pendekatan proses andragogi, pengalaman orang dewasa justru dianggap sebagai sumber belajar yang sangat kaya. Dalam pendekatan proses pedagogi, pengalaman itu justru dialihkan dari pihak guru ke pihak murid. Sebagian besar proses belajar dalam pendekatan pedagogi, karena itu, dilaksanakan dengan cara-cara komunikasi satu arah, seperti ; ceramah, penguasaan kemampuan membaca dan sebagainya. Pada proses andragogi, cara-cara yang ditempuh lebih bersifat diskusi kelompok, simulasi, permainan peran dan lain-lain. Dalam proses seperti itu, maka semua pengalaman peserta didik dapat didayagunakan sebagai sumber belajar.

3. Kesiapan Belajar

Perbedaan ketiga antara pedagogi dan andragogi adalah dalam hal pemilihan isi pelajaran. Dalam pendekatan pedagogi, gurulah yang memutuskan isi pelajaran dan bertanggung jawab terhadap proses pemilihannya, serta kapan waktu hal tersebut akan diajarkan. Dalam pendekatan andragogi, peserta didiklah yang memutuskan apa yang akan dipelajarinya berdasarkan kebutuhannya sendiri. Guru sebagai fasilitator.

4. Nirwana Waktu dan Arah Belajar

Pendidikan seringkali dipandang sebagai upaya mempersiapkan anak didik untuk masa depan. Dalam pendekatan andragogi, belajar dipandang sebagai suatu proses pemecahan masalah ketimbang sebagai proses pemberian mata pelajaran tertentu. Karena itu, andragogi merupakan suatu proses penemuan dan pemecahan masalah nyata pada masa kini. Arah pencapaiannya adalah penemuan suatu situasi yang lebih baik, suatu tujuan yang sengaja diciptakan, suatu pengalaman pribadi, suatu pengalaman kolektif atau suatu kemungkinan pengembangan berdasarkan kenyataan yang ada saat ini. Untuk menemukan “dimana kita sekarang” dan “kemana kita akan pergi”, itulah pusat kegiatan dalam proses andragogi. Maka belajar dalam pendekatan andragogi adalah berarti “memecahkan masalah hari ini”, sedangkan pada pendekatan pedagogi, belajar itu justru merupakan proses pengumpulan informasi yang sedang dipelajari yang akan digunakan suatu waktu kelak.

C. Langkah-langkah Pelaksanaan Andragogi

Langkah-langkah kegiatan dan pengorganisasian program pendidikan yang menggunakan asas-asas pendekatan andragogi, selalu melibatkan tujuh proses sebagai berikut :

1. Menciptakan iklim untuk belajar
2. Menyusun suatu bentuk perencanaan kegiatan secara bersama dan saling membantu
3. Menilai atau mengidentifikasikan minat, kebutuhan dan nilai-nilai
4. Merumuskan tujuan belajar
5. Merancang kegiatan belajar
6. Melaksanakan kegiatan belajar
7. Mengevaluasi hasil belajar (menilai kembali pemenuhan minat, kebutuhan dan pencapaian nilai-nilai.

Andragogi dapat disimpulkan sebagai :

1. Cara untuk belajar secara langsung dari pengalaman
2. Suatu proses pendidikan kembali yang dapat mengurangi konflik-konflik sosial, melalui kegiatan-kegiatan antar pribadi dalam kelompok belajar itu
3. Suatu proses belajar yang diarahkan sendiri, dimana kira secara terus menerus dapat menilai kembali kebutuhan belajar yang timbul dari tuntutan situasi yang selalu berubah.

D. Prinsip-prinsip Belajar untuk Orang Dewasa

1. Orang dewasa belajar dengan baik apabila dia secara penuh ambil bagian dalam kegiatan-kegiatan
2. Orang dewasa belajar dengan baik apabila menyangkut mana yang menarik bagi dia dan ada kaitan dengan kehidupannya sehari-hari.
3. Orang dewasa belajar sebaik mungkin apabila apa yang ia pelajari bermanfaat dan praktis
4. Dorongan semangat dan pengulangan yang terus menerus akan membantu seseorang belajar lebih baik
5. Orang dewasa belajar sebaik mungkin apabila ia mempunyai kesempatan untuk memanfaatkan secara penuh pengetahuannya, kemampuannya dan keterampilannya dalam waktu yang cukup
6. Proses belajar dipengaruhi oleh pengalaman-pengalaman lalu dan daya pikir dari warga belajar
7. Saling pengertian yang baik dan sesuai dengan ciri-ciri utama dari orang dewasa membantu pencapaian tujuan dalam belajar.

E. Karakteristik Warga Belajar Dewasa

1. Orang dewasa mempunyai pengalaman-pengalaman yang berbeda-beda
2. Orang dewasa yang miskin mempunyai tendensi, merasa bahwa dia tidak dapat menentukan kehidupannya sendiri.
3. Orang dewasa lebih suka menerima saran-saran dari pada digurui
4. Orang dewasa lebih memberi perhatian pada hal-hal yang menarik bagi dia dan menjadi kebutuhannya
5. Orang dewasa lebih suka dihargai dari pada diberi hukuman atau disalahkan
6. Orang dewasa yang pernah mengalami putus sekolah, mempunyai kecendrungan untuk menilai lebih rendah kemampuan belajarnya
7. Apa yang biasa dilakukan orang dewasa, menunjukkan tahap pemahamannya
8. Orang dewasa secara sengaja mengulang hal yang sama
9. Orang dewasa suka diperlakukan dengan kesungguhan iktikad yang baik, adil dan masuk akal
10. Orang dewasa sudah belajar sejak kecil tentang cara mengatur hidupnya. Oleh karena itu ia lebih suka melakukan sendiri sebanyak mungkin
11. Orang dewasa menyenangi hal-hal yang praktis
12. Orang dewasa membutuhkan waktu lebih lama untuk dapat akrab dan menjalon hubungan dekat dengan teman baru.

F. Karakteristik Pengajar Orang Dewasa

Seorang pengajar orang dewasa haruslah memenuhi persyaratan berikut :

1. Menjadi anggota dari kelompok yang diajar
2. Mampu menciptakan iklim untuk belajar mengajar
3. Mempunyai rasa tanggung jawab yang tinggi, rasa pengabdian dan idealisme untuk kerjanya
4. Menirukan/mempelajari kemampuan orang lain
5. Menyadari kelemahannya, tingkat keterbukaannya, kekuatannya dan tahu bahwa di antara kekuatan yang dimiliki dapat menjadi kelemahan pada situasi tertentu.
6. Dapat melihat permasalahan dan menentukan pemecahannya
7. Peka dan mengerti perasaan orang lain, lewat pengamatan
8. Mengetahui bagaimana meyakinkan dan memperlakukan orang
9. Selalu optimis dan mempunyai iktikad baik terhadap orang
10. Menyadari bahwa “perannya bukan mengajar, tetapi menciptakan iklim untuk belajar”
11. Menyadari bahwa segala sesuatu mempunyai segi negatif dan positif.
(lebih jauh tentang ini silakan buka di andragogi.com).
Proses andragogi ini bisa dijelaskan secara sederhana dalam sebuah aktifitas daur belajar :
1. Melakukan / mengalami
2. Mengungkapkan
3. Mengolah / menganalisa
4. Menyimpulkan
5. Menerapkan
Dari proses Daur belajar tersebut kita bisa melihat bahwa andragogi adalah sebuah proses pembelajaran yang menghasilkan sebuah karya atau aktifitas. Proses pembelajaran andragogi adalah sebuah proses pembelajaran yang membuat manusia bergerak. Dengan kata lain, andragogi merangsang sebuah pendidikan untuk menjadi sebuah proses yang transformative (lihat paolo preire ? )
Pendekatan andragogi memiliki hubungan pula dengan dua pandangan teoritis tujuan pendidikan. Yang pertama bertujuan kepada masyarakat yaitu menganggap pendidikan sebagai sarana utama dalam menciptakan rakyat yang baik, baik untuk system pemerintahan demokratis maupun monarki dan lainnya. Sedang yang kedua berorientasi kepada individu, yang lebih memfokuskan diri pada kebutuhan, daya tamping, dan minat pelajar.
Tujuan yang pertama telah menyebabkan “penyakit diploma” (diploma disease) yakni usaha pendidikan bukan untuk pendidikan itu sendiri tapi untuk gelar (penulis lebih sering menyebutnya sebagai impotensi pendidikan). Inilah yang menyebabkan kebingungan dalam ilmu pengetahuan dan kekacauan. Implikasi jauhnya adalah mengembangkan sekularisme karena mencari ilmu kemudian tidak lagi untuk mencari Ridho Allah.
Sedang dalam pendekata yang kedua, pendidikan itu berorientasi individu untuk mengembangkan kepribadian peserta didik. Pendidikan yang berorientasi kepada individu inilah yang benar karena sesuai dengan konsep tentang ilmu itu sendiri (lebih jauh baca buku “Filsafat dan Praktik Pendidikan Islam Syed M. Naquib Al-Attas” (Wan Mohd Nor Wan Daud, khususnya Bab tentang makna dan tujuan pendidikan) Dalam hal ini, andragogi lebih mendekati teori yang kedua daripada yang pertama.
Imam Al Ghazali menjelaskan tujuan pendidikan itu menjadi tiga. Pertama untuk ilmu dan perkembangan ilmu, menguasai dan mengajarkan ilmu. Kedua untuk menyempurnakan akhlaq, sebagaimana Rasulullah diutus untuk menyempurnakan akhlaq manusia. Ketiga untuk mendpatkan kebahagiaan di dunia dan akhirat. Dan jelas, untuk mendapatkan tujuan pendidikan tersebut, orientasi pendidikan harus kepada individu.
Andragogi, bukan berarti sama sekali tidak ada transfer ilmu dari seorang guru kepada murid. Transfer ilmu itu harus dan tetap dilakukan, namun ketika manusia sudah mencapai saat al-aqil (berakal sempurna) setelah sebelumnya al-tamziz (mampu membedakan yang baik dan benar) dan al-hifl (masa berlatih). Maka sebenarnya manusia sudah mempunyai kekuatan untuk memutuskan dan bertanggung jawab terhadap putusannya tersebut. Manusia dalam masa itu (al-aqil) sudah bertanggungjawab terhadap dirinya sendiri. Maka dari itu, manusia harus menyadari tentang kemandiriannya sebagai seorang individu. Maka dalam hal ini Andragogi lebih diterima daripada pendekatan pedagogi (pembelajaran orang kecil).
Dengan kata lain andragogi membuat proses pembelajaran sebagai sebuah solusi atas situasi yang dihadapainya. Hal ini, memiliki kedekatan dengan apa yang dilakukan dalam dakwah Rasulullah SAW kepada para sahabat dan bagaimana wahyu diturunkan oleh Allah SWT (yang memiliki asbabun al nuzul). Dan perlulah diketahui, bahwa situasi yang paling dekat dengan manusia itu adalah kematiannya. Maka dari sinilah sebuah pendidikan dikembangkan.

EKOSFERIS
Dalam tulisannya H.A.R. Tilaar yang berjudul “Tinjauan Pedagogis Mengenai Pemuda : Suatu Pendekatn Ekosferis (dalam buku “Pemuda dan Perubahan Sosial” editor Taufik Abdullah)
Dijelaskan : “Dalam Bahasa Inggris isltilah ekosferis terdiri dari dua kata : “ecology” dan “sphere”. “Ecology” berasal dari bahasa Yunani “oikos” yang berarti rumah. Istilah ini sangat popular dalam biologi sebagai suatu cabang ilmu pengetahuan yang menelti hubungan antara organism dengan lingkungannya. Dalam sosiologi Istilah ini sering pula dipergunakan untuk menggambarkan hubungan antara distribusi kelompok-kelompok manusia dengan lingkungan alamiahnya serta konsekwensi pola-pola social dan kebudayaan yang muncul dari interaksi itu. “sphere” berarti tempat atau daerah tindakan atau keberadaan. Dalam tulisan ini, penulis mencoba menerapkan pengertian ekosfir dalam paedagogik sebagai suatu pola pendekatan yang melihat kepemudaan sebagai suatu bagian yang dinamis dari wawasan kehidupan manusia.
Ada dua asumsi dalam melihat kepemudaan
1. Mengenai proses perkembangan yang frgamentaris, tidak kontinum. Ibarat pulau yang terasing, pemuda adalah sesuatu yang ada dalam bagiannya sendiri. Sebagai sebuah peralihan kejiwaan. Aktifitasnya adalah penyaluran energy berlebih. Pemuda tetap berada dalam baying-bayang generasi tua.
2. Mengenai posisi pemuda dalam arahan kehidupan. Ialah mereka yang berada dibelakang kemapanan tradisi pemikiran generasi tua. Pemuda adalah obyek, orang tua adalah subyek. Sehingga masyarakat menjadi terisolir dan statis.
Pendekatan ekosferis tidak memandang pemuda sebagaimana dua asumsi diatas. Pemuda adalah subjek yang beriteraksi dalam sebuah lingkungan dan terdapat unsur tujuan yang menjadi pengaarh dinamika dalam lingkungan itu. Pemuda, anak-anak maupun orang tua adalah sebuah totalitas kehidupan. Kedewasaan tidak ditentukan usia, tapi ditentukan oleh pencapaian setiap individu dalam menghadapi. Maka dalam hal ini, semuanya bertanggung jawab untuk menjaga keselamatan, kesejahteraan, dan keberlanjutan generasi sekarang dan yang akan datang.
Dalam tulisan H.A.R. Tilaar disebutkan tentang krisis ekosferis yang melanda, diantaranya terkait dengan nilai; konsep tentang (kesepakatan) hidup yang baik; erosi kredibilitas; ketiadaan pegangan masa depan; kesaratan lembaga-lembaga social.

TENTANG TA’DIB, TAKLIM DAN TARBIYAH
Mengenai ta’dib, taklim dan tarbiyah belum sempat ditulis. Lihat buku refrensi halaman 175-188.

KONSEP EKOSFERIS DAN ANDRAGOGI DALAM IPF.
Islamisasi ilmu pengetahuan kontemporer menempatkan pemuda/ orang dewasa sebagai subyek. Oleh karena itulah, memulai prose situ dari orang dewasa dahulu, tepatnya dari universitas. Dan mahasiswa dalam pandangan ekosferis, tidak ditentukan oleh orang tua/generasi tua. Maka, apa yang kita/IPF lakukan meskipun berbeda dari orang tua maka itu adalah sesuatu yang bukan masalah. IPF menempatkan ekosferis dan andragogi ini sebagai basis berfikirnya.
Pendekatan andragogi membuat IPF menamakan tim fasilitator untuk pengelola satuan kegiatan. Bukan guru atau pemateri, karena itu berkaitan dengan kemampuan dan proses yang akan dilalui oleh IPF dalam kerangka peningkatan kapasitasnya. IPF adalah sesuatu yang terbatas, sehingga otomatis dalam keterbatasan tersebut IPF harus bergerak dan untuk itulah pendekatan ekosferis in menjadi sangat bermakna. Konsep sinergisitas beranjak dari pendekatan ekosferis ini.


Tindakan

Information

Tinggalkan komentar