Kegiatan

KITA DAN JAKARTA
Ditulis sebagai laporan perjalanan dari Universitas Indonesia di Depok
Oleh Randi Muchariman

YANG DITULIS DI AWAL
Hanum menyimpan kekuatan dalam suaranya yang rendah. Perjalanan dan kesendirian yang terobati dengan kehadiran berita dari Jogjakarta. Selain ARC, bertemu pula dengan teman-teman NUUN yang unik. Subhi yang terus bergerak dan membuka lahan-lahan yang masih kering. Meski kecil, ia yakin karena berdiri di atas akar yang kuat. Dan sangat percaya diri menghadapi mereka yang besar tapi berdiri di atas ranting yang rapuh. Ridho (yang memakai topi hijau gaya fidel castro tapi berlambang bulan bintang) yang rela dengan keputusannya dalam pergulatan hidup. Yang membawa padanya ketidakraguan dan penafikan pandangan manusia. Rizal (orang mungkin menyangkanya seorang Habib karena hidungnya mancung, padahal ia sunda), yang rendah hati dan berhati-hati. Yang menyimpan perbendaharaan dalam kesederhanaan dan kekhusuannya. Mbak Lulu, yang tidak terlalu saya kenali kecuali dia dan teman-temannya (di NUN) berusaha bersama menjadi “orang gila” yang berkarya. Mbak Lulu, mungkin lebih berkarya dalam usaha-usaha sepinya.
Ini adalah oleh oleh yang saya bawa dari Jakarta. Sengaja saya susun agar teman teman lain di IPF maupun di luar IPF bisa merasakan apa yang saya dapatkan dari Jakarta selama 3 hari perjalanan. Kota Metropilitan (meskipun UI ada di Depok, tidak salah bila kita katakana saja Jakarta) memberikan kita sudut pandang tersendiri terhadap kota pelajar, Jogjakarta. Jakarta telah membuktikan keistimewaan Jogja bagi suasana perkembangan pemikiran dan kenyamanan para penuntut ilmu. Suasana Jogja, membuat kita mengerti dan merasakan kehidupan Materialism Jakarta. Jakarta, membuat diri (saya) bersatu dengan tanah Jogja, kedua setelah Tasikmalaya.

BACA INI DULU
Mengapa IPF harus pergi ke Jakarta ? Mengapa mesti jauh dan lelah pergi menggunakan kereta ekonomi untuk menghemat ongkos ? Mengapa dan apa urgensi itu semua ?
Saya masih ingat, aa Gym pernah memberikan tips tentang kesuksesan usahanya. Salah satu yang terpenting , katanya, adalah melakukan studi banding dan mengambil pelajaran dari mereka yang kita kunjungi. Dan bukankah silaturaihim itu membuka rizki, dan itulah kuncinya. Maka sangat wajar apabila IPF kemarin (dari mulai Kamis /21 feb 2008 jam 5 sore – senin/25 feb 2008 jam 8 pagi kurang. Start dan finish di lempuyangan) pergi ke Jakarta. Inilah bentuk keseriusan kita untuk berkarya dan melalui proses sesuai misi yang telah disebutkan dengan lahirnnya IPF.
Jakarta (kampus UI depok) , dalam tinjauan itu adalah satu lokasi terpenting dalam kancah nasional. Selain Yogya, Jakarta sampai saat ini menjadi ibu kota Negara Indonesia. Hingga tidak berlebihan bila kita mengatakan Jakarta lah salah satu parameter yang valid untuk mengukur dan memahami Indonesia. Selain itu, bukankah sering kita katakan dengan tawa yang lepas, bahwa untuk menguasai (atau mungkin membina atau menaklukan) Indonesia, diawali dari Jogja dan Jakarta. Jadi wajar dan memang selayaknya kita pergi ke Jakarta.
Sebenarnya, proses studi banding kita ke Jakarta tersebut tidak dimulai ketika kita ada di Jakarta dan bertemu dengan Insists (institute for the Study of Islamic Thought and Civilization) / kita berkunjung ke kantor Insists dan rumah Ust. Adian Husaini, komunitas Nun (disebut Nun karena mereka salah satunya berangkat dari surat al qolam, Nuun wal qolami wama yasturun) dan Alhikmah research center (alhikmah sesuai nama mushola Fisipol UI). Tapi kita memulai studi banding ketika kita pergi menuju Jakarta dari lempuyangan. Proses yang kita cermati dan pelajari itu meliputi pandangan terhadap lingkungan, ide dan suasana yang kita rasakan. Melihat eksternal, internal dan interaksi diantara kita pula.
Studi banding tersebut membawa target sebagai komparasi antara IPF dengan teman teman lainnya di Jakarta. Lalu melihat pula perkembangan gerakan pemikiran dalam cakupan nasional. Kita berharap, studi banding ini memberikan semangat, inspirasi, strategi dan pelajaran yang bisa semakin menegaskan eksistensi IPF dalam karya karyanya dan bukan dalam atribut-atributnya.

INI YANG KITE KERJAIN
KAMIS
Jam 17.00 berangkat dari Lempuyangan naik kereta ekonomi Progo. Yang berangkat Randi, Wibi dan Amri. Wibi datang diantar Ari pake motor. Sampai jam 03.30 an tiba di stasiun pasar senen Jakarta Pusat.
JUMAT
jam 03.30 lebih kita istirahat di Masjid depan Senen. Lalu datang subhi dan Arif (komunitas Nuun) pake motor. Lalu kita berangkat menuju jalan margonda, depan univ. guna darma. Sampai jam 04.40 lebih kita sampai di tempat ngumpulnya komunitas nuun.
jam 09.00 (sekitar itu) setelah kita istirahat, ngobrol-ngobrol santai, bareng subhi dan rizal, kita pergi keliling ke UI, melihat beberapa fakultas, Masjid Ukhuwah Islamiyah (MUI), dan makan di kantin asrama UI. Kita pun mencoba bis kuning yang sesak oleh mahasiswa. Disini kita tahu bahwa ui lebih nyaman daripada UGM, meski biaya hidup lebih mahal.
Jam 13 lebih setelah jumatan yang sampai jam 13.00 dan berbicara tentang hari valentine, otoritas syariah dan kedudukan ilmu, bertemu dengan Hanum (ketua ARC) dan bikin janji untuk bertemu jam 9 hari ahad dan janjian silaturahim ke Ust.Adian malam sabtu. Dan setelah itu kita ditemani Ridho untuk berkeliling lagi dan makan di kantin FIB UI yang lebih ramai dan bersih dari bonbin UGM.
Jam 14.30 lebih kita bertemu dengan teman teman komuninitas Nuun lainnya, dengan mbak Lulu, Arif dan ngobrol di klaster (klas terbuka ) FIB UI dengan teman-teman dari komunitas nun lainnya. Setelah solat ashar, kita kembali ke tempat ngumpul Nuun (kosan) dan istirahat sebentar. Sore kita berangkat ke kelapa dua, magrib disana dan pergi kerumah Ust. Adian dan bertemu dengaan Ust. Hendri juga (sekretaris INSISTS).
jam 19.00 (sekitar itu) kita ngobrol dengan Ust.Adian ditemani Nuun dan Hanum hingga jam 10 lebih. Lalu kita kembali ke kosan nuun dan istirahat sekitar jam 12 malam.

SABTU
jam 9 pagi kita sudah berangkat ke kalibata ke gedung GIP, ke kantornya Insists naik kereta listrik. Sampai di sana jam 10. Kajian insists ditunda sampai dzuhur.
Jam 11 Indri dan Wiwik (yang datang menyusul dari Jogja,berangkat hari jumat jam 5 sore) tiba di Insists. Lalu jam 11.30 an ngobrol dengan komunitas Nuun. Berhenti dipotong kajian Insists setelah duhur yang membahas disertasi mahasiswa UIN Jakarta yang banyak kebohongan, untuk dilanjut lagi ngobrol dengan nuun sekitar jam 14.30
jam 16.00 an setelah ngobrol dengan nuun dan solat asar kita kembali ke MUI, ketemu wibi yang istirahat di rumahnya karena sakit dari malam sabtu.
jam 18.00an setelah solat magrib menuju ke PPSDMS (yang akhwat di tempat temannya Indri) dan meninap disana.
AHAD
jam 07.30 an menuju ke Fisipol UI. Makan dan lain2.
jam 09 lebih acara dengan ARC dimulai hingga duhur. Datang juga Subhi (yang dari nuun).
Jam 12.00 lebih setelah solat duhur berbicara santai dengan Hanum dan teman dari ARC.
Jam 14.00 an memutuskan untuk mengejar kereta ekonomi sore ke jogja di stasiun Jatinegara yang ternyata tidak ada .Akhirnya dari ashar hingga jam 8 malam kita istirahat di masjid jami’ al Anwar rawabunga.
jam 21.10 kereta datang dan melaksanakan evaluasi tim IPF yang berangkat ke Jakarta hingga jam 12 malam.
Senin jam 8 kurang tiba di lempuyangan Jogja. Dan pulang….

PELAJARAN DARI JAKARTA
UST. ADIAN
Dari Ust. Adian, setelah saya pikir dan proses, saya mendapatkan beberapa hal yang penting. Yaitu sebagai berikut :
1.bahwa efek dar gerakan pemikiran itu sekitar 10-20 tahun kedepan. Dan adalah bencana apabila gerakan pemikiran dimenangkan oleh agen agen pemikiran yang kacau dan keliru.
2. kita harus melatih kepekaan terhadap masalah pemikiran. Padamkanlah api ketika masih kecil, jangan menunggu besar. Belajarlah untuk terus melihat dan memperhatikan lingkungan. Hal itu bagi saya sesuai dengan motto “dengar-pelajari-kritisi, baca-tuliskan-wacanakan, yakin-berjuang-berkorban”.
3. yang paling penting ialah kita mempunyai frame work. Sebuah Islamic world view. Inilah yang akan mengkerangkai seseorang sehingga jelas untuk apa ia mencari ilmu, mendapatkan informasi dan berusaha dalam aktifitas di gerakan pemikiran.
4. ada beberapa ilmu yang penting dalam tataran poltik sehingga siap untuk bertarung dalam kancah pemikiran, yaitu tentang Aqidah, tentang Dien, konsep ilmu. Sejarah (penting sekali), tentang manusia dan fakultas-fakultas dalam dirinya.
5.yang diperlukan sekarang ialah komunitas komunitas kecil yang intensif dan focus mengkaji, meneliti, melakukan kritik dan khusus dalam gerakan pemikiran, atau melakukan islamisasi ilmu pengetahuan kontemporer. Kita tidak bisa melakukan proses-proses masal seperti seminar sebagai focus gerakan pemikiran. Tapi diperlukan orang orang yang sedikit, tapi ia handal dan ahli dan siap bergerak.
6. bahwa kita harus mempertahankan dan meraih otoritas ilmu, sehingga ilmu tetap bisa dipertahankan dan kebenaran tetap bisa terjaga. Jangan sampai ummat kebingungan dan keadaan menjadi kacau balau karena yang diakui memegang otoritas ilmu adalah orang-orang yang terkelabui yang salah memahami ilmu dan kebenaran.
7.kesalahan dan kekeliruan, bahkan penyelewengan dalam ilmu pada dasarnya itu adalah kemungkaran yang sangat besar. Menyalahkan dan memplintir Al-quran merupakan kemungkaran yang sangat besar. Dalam hal inilah kita bernahi munkar. Dan kita harus memadamkannya sebelum api ini menjadi besar.
8.beliau siap untuk membina dan memberikan pemahaman tentang Islamic world view melalui training-training bagi komunitas-komunitas. Ini adalah sebuah kabar gembira bagi IPF, karena kita tidak sendirian bergerak dalam pergulatan pemikiran / ilmu ini. Karena ilmu itu tidak bisa mengandalkan buku saja tetap harus ada guru yang membimbing dan memberikan kerangka dari setiap ilmu yang kita dapatkan. Maka guru adalah sesuatu yang sangat penting.
Apa yang kita dapatkan dari Ust.Adian harus kita proses menjadi sesuatu yang konkret dalam sebuah karya. Misalkan bagaimana agar kita bisa mewujudkan sebuah pelatihan selama 2 sampai 4 hari tentang Islamic world view (mungkin bersama teman dari UI) sehingga kita benar-benar memilikik kompetensi yang teruji.
DARI KOMUNITAS NUUN
Banyak sekali sebenarnya yang kita dapatkan. Teman Nuun membuat kita paham, bagaimana bergerak dalam dunia pemikiran yang terasing dalam keseharian mahasiswa. Teman Nuun adalah orang orang yang awalnya terus berusaha untuk membangun kultur ilmu dan kajian di organ awalnya masing-masing, tapi mereka selalu buntu hingga mendapatkan momentum dan membuat komunitas nuun. Komunitas yang nama dan dasar gerakannya beranjak dari surat al-qolam ayat 1-9. Dari komunitas nuun, kita mendapat
1.pahami dan sepakati kata kata kunci sehingga jelas dan tegas gerakan. Mereka misalnya memahami betul tentang islamisasi ilmu, surat alqolam 1-9, ketiadaan adab dan lainnya.
2. kompak itu dengan berantem. Artinya ada proses interaksi diantara Nuun dan saling mengkritik dan memberi nasihat sehingga Nuun benar-benar saling kenal, paham dan menolong. Dan itulah yang membuat Nuun kompak.
3. mencari ilmu itu bukan di kampus. Tapi kampus itu tempat bertarung. Sebagaimana pula hidup, hidup itu adalah peperangan (sesuai hadist nabi yang menyuruh kita waspada dan jangan lalai) maka harus selalu siap dan waspada dengan apa yang ada di sekitar kita.
4. intensitas bertemu, sering diskusi, menginap dan punya basekamp tempat ngumpul adalah sesuatu yang penting untuk menjaga dan membentuk soliditas.
5. jangan sampai terhegemoni oleh kekuasaan melalui ilmu, meskipun sebagai konsekwensinya harus terasing. Jangan pedulikan cap fundamental, radikal, bahkan teroris, karena itu adalah bentuk hegemoni kekuasaan barat melalui pengetahuan yang mereka produksi.
6. kita berusaha sedangkan hasilnya Allah yang putuskan. Apabila belum pula terlihat hasilnya, maka ituah ujian dari Allah. Nuun sampai pada kesimpulan itu karena keyakinan mereka pada gerakan dan jalan berjuang. Itulah yang harus pula kita lakukan.
7. cari dan pelajarilah buku-buku induk yag penting yang membahas tentang pentingnya gerakan ini. Seperti buku yang bercover merah tentang generasi Sholahuddin, pendidikan dan ketiadaan adab yang diungkapkan oleh Al-Attas dan lainnya.
8. petakanlah medan. Ring satu adalah nuun sendiri,yakni harus saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran diantara nuun. Kedua adalah aktifis yang ada di masjid, tapi belum menganggap ketiadaan adab sebagai masalah yang sangat penting dalam Islam.yakni bagaimana bisa mentransfer dan membuka kesadaran tentang kondisi tersebut. Ring tiga adalah masa mengambang. Dan ring empat adalah musuh yang harus dilawan.
9. kita bukan apa-apa dan tak dianggap apa-apa. Tapi kita punya sesuatu. Pertanyaannya bukan siapa kita, tapi lebih apa yang kita punya. Maka dalam tinjauan ini, kita harus paham dan sadar agar jangan sampai ribut dengan atribut-atribut yang melelahkan. Yang karena itu justru menghilangkan esensinya. Yang menghilangkan esensi jamaah sebagai sebuah upaya, perjuangan bersama untuk sebuah misi.
10. bahwa independen itu terlihat dari kemandirian berpikir dan bertindak. Bagaimana bisa melihat apa yang terjadi di sekitarnya. Peka dengan kondisi dan menyelesaikan masalah yang ada disekitarnya. Bukan melakukan apa yang dipesankan saja, tapi lupa atau bahkan menutup mata dengan realitas sekitarnya. Padahal itu jelas-jelas dihadapi.
11. kita adalah membaca, menulis dan diskusi. Mengikuti seminar seminar atau kajian keilmuan dan duduk bersama ulama (yang berilmu).
12.bahwa kita tidak sekedar melawan tapi membangun. Kita tidak minder dan justru sangat percaya diri menghadapi musuh (sekuler liberal). Karena meskipun kita kecil, tapi kita berdiri di atas pondasi yang kokoh. Sedangkan musuh kita, meskipun mereka besar tapi mereka berdiri di atas ranting yang rapuh.
13.musuh kita membangun jaringan dan menjadi besar dengan dana miliaran rupiah yang dikucurkan barat. Ketika mereka melakukan training, mereka lakukan di hotel dengan akomodasi yang memuaskan. Tapi kita tidak dibayar dengan uang miliaran rupiah, kita dibayar dengan surga yang kita harapkan. Dan kita harus pula membangun sebuah jaringan sehingga bisa mengimbangi kekuatan musuh dan menghancurkannya.
Selain itu, dari nuun kita mendapatkan beberapa file .
ALHIKMAH RESEARCH CENTER
Pada dasarnya ARC persis dengan IPF. Masih illegal dan asing dari dunia dakwah mahasiswa. Beberapa hal yang kita dapatkan dari pertemuan tersebut dengan ARC adalah
1.kita harus menjaga silaturahim dengan civitas akademik di Fakultas. Dengan dosen dan yang lainnya.
2.bahwa proses regenerasi itu sangat penting. Jangan sampai kehilangan dan terputusnya tujuan. Jangan pula kehilangan arah dan kehabisan materi diskusi.
3.bahwa mahasiswa muslim di fisipol tidak terlalu mengapresiasi gerakan pemikirn dengan positif. Bahkan ada stereotif.
4.masalah publikasi kegiatan menjadi masalah di lapangan yang mempengaruhi keberhasilan program di lapangan.
5.bersama dengan ARC kita bisa mengagendakan untuk merancang dan melaksanakan sebuah training bersama. Mengundang Insists sebagai pembicara utamanya dan mengundang juga teman-teman dari universitas lainnya.
6.bahwa di Universitas, gerakan musuh sudah dimulai sejak tahun 80 an dan baru terlihat sekarang. Artinya ada rentang 20 tahun lebih hingga hasil itu terlihat dan mulai menunjukan dampak yang meluas. Tahun 80 di UI ada dosen yang membina mahasiswa secara intensif. Kemudian mahasiswa yang dibina itu saat sekarang menjadi dosen di UI dan tentu menjadi garis depan gerakan musuh.
7.kita harus menyelesaikan dahulu tentang keresahan dan dasar dalam melihat realitas dan bergerak. Sehingga jelas dan tidak kebingungan gerakan dan arahnya.
Dari ARC kita mendapat file dan beberapa lagi akan dikirim lewat email.
BEBERAPA HAL YANG HARUS DILAKUKAN
1. Membuka jaringan dan keakraban dengan dosen dan ulama yang bisa menambah pengetahuan dan keilmuan kita. Sehingga kita siap melaksanakan aktifitas ini.
2. Meningkatkan kesadaran kita tentang urgensi gerakan ini. Inilah yang membuat kita bertahan dan memberikan kekuatan karena berlandaskan keyakinan.
3. Adalah seharusnya, kita meningkatkan kemampuan membaca, menulis, dan berdiskusi. Mendidik diri sendiri, mempersiapkan kapasitas setiap penggiat IPF.
4. Adalah seharusnya, apabila kita bersusah payah dan besungguh sungguh untuk mengkritisi dan mencounter pemikiran manusia yang merusakan aqidah ummat Islam baik secara terang ataupun halus. Maka marilah kita tingkatkan kepekaan dan usaha kita.
5. Ke depan, jaringan dan kekuatan yang bersinergis semakin membuat gerakan ini menempati perannya yang lebih besar. Maka kapasitas yang harus disiapkan tidak hanya intelektual, sangat penting untuk mempersiapkan kapasitas spiritual, emosi dan kepemimpinan. Sehingga saat peran itu harus kita pangku, kita tetap bertahan.
6. IPF, semakin menegaskan identitas dan gerakannya. Jadi lah kita hendaknya menghindari perdebatan tentang atribut yang melelahkan. Kita fokus kepada usaha ini. Dan marilah kita untuk lebih menempatkan masalah atribut itu dibawah usaha kita yang sebenarnya.
7. Dakwah yang paling pertama itu ditunjukan untuk IPF itu sendiri. Jangan sampai melupakan pembinaan seluruh anggota IPF, baik kita sendiri, tim, atau anggota pada umumnya.
YANG DISIMPEN DIAKHIR
Itulah tulisan catatan saya tentang perjalanan ke Jakarta. Banyak hal yang didapat dan karya yang harus diwujudkan setelahnya. Terakhir untuk teman-teman yang bersama ke Jakarta, terimakasih kita sudah menyelesaikan tugas ini sebagiannya. Dan sebagiannya lagi harus kita tunaikan (mentransfer apa yang kita dapatkan). Menunjukan dan memberikan apa yang kita dapatkan dari Jakarta, semangat, ikatan dan peningkatn kesadaran tentang sangat pentingnya usaha yang sedang kita lalui ini. Sebuah usaha yang membuat kita nyaman dalam keterasingan di dunia mahasiswa yang melupakannya. Kita ada bukan untuk diingat, tapi kita ada karena pilihan atas kesadaran. Sebagimana yang dilakukan AlGhozali sehingga melahirkan generasi Sholahuddin Al Ayubi beberapa generasi setelahnya.
Terakhir, terimakasih tuk Wibi, pesannya memberikan pandangan yang masuk jauh ke dalam diri. Untuk Indri dengan pernyataanya yang membuat saya berfikir keras. Juga Amri yang memaksa saya tuk lebih memahami dunia. Dan akhirnya Wiwik yang membuat menarik semua rahasia masa depan. Sengaja ucapan terimakasih ini saya simpan di bagian akhir laporan perjalanan ini, karena kesan ada setelah kita bergemul, tidak sebaliknya. Dan saya berterimkasih untuk Wibi, Indri, Amri dan Wiwik untuk diri Wibi, Indri, Amri,dan Wiwik seluruhnya bukan sebagiannya saja. Lain waktu di hari yang sebenarnya… perjalanan itu sangat menentukan.

… KESAN SEBUAH PERJALANAN …

Di setiap tempat adalah sekolah
Di setiap orang adalah guru
Di setiap buku adalah ilmu
Di setiap pengalaman adalah hikmah
Jika kamu menyadari …

Stasiun Senen, 02.47 dini hari
Malam, saat itu masih tergolong malam jika disebut malam, gelap dan sedikit dingin menyekat. Saya, sampai di Jakarta yang masih agak terlelap. Tak pikir panjang saya dan Wiwik langsung angkat kaki dari stasiun, karena harus memulai hari ini pagi sekali jam 8. ternyata sebuah pilihan yang kurang tepat, setelah berkeliling Jakarta menumpang C01 hingga terminal Blok M, kami memutuskan menyusuri jalan besar berputar Pasaraya hingga Blok M plaza sampai akhirnya menyerah dengan menjentikan jari untuk memanggil taksi. Berputar sedikit di pondok Indah akhirnya sampai juga di kampung kecil pinggir Bintaro yang memang sudah di pinggir Jakarta. Klonteng, klonteng, …. kami sampai dirumah saya, bertepatan dengan gempita azan subuh kota Jakarta.

Bintaro, 08.30 pagi
Agak tak bersesuain dengan rencana hehe… karena beberapa hal perjalanan harus tertunda. Sarapan, beberes dan persiapan lainnya yang musti dipersiapkan agak ribet…. hampir tepat pukul 9 pagi kami pamit menuju tempat tujuan selanjutnya. Agh rumah tempat membosankan, yang selalu ter-rindukan, apalagi saat akhir bulan menghampiri.

Metromini 75, 09.30 pagi
Setelah menempuh pejalanan 30 menit Bintaro-Blok M, kami menuju pasar minggu, begitu kata pak sms, metromini 75 lah yang melayani trayek ini. Alhamdulillah, kami datang di hari sabtu, sang macet sedang libur waktu itu, jadilah walau telat tak teramat memalukan. Namun karena telat dari awal, kami sempat dilanda kecemasan, kalo-kalo aja telat sungguh kesan pertama yang memalukan. Diperjalan menyusuri jalan mampang mengingatkan masa perjuangan 3 tahun silam, whehe saat itu masih heroik-heroiknya … Ragunan-Iqro’ Club-masjid Al Hikmah Bangka….egh jalan Kalibata Utara II terlupakan, kami sempat melewati gank-nya… tapi memang sesuai perintah yang tertera di sms kami musti naik angkot kecil dari pasar minggu. Setelah konsultasi dengan Bang Kenek akhirnya kami turun menjelang terminal pasar minggu. Waktu itu , walau hari sabtu pasar minggu tetep rame, kemacetan lokal menyergap kami, namun berkat abang sopir yang cukup sigap 20 menit kemudian kami hinggap di gank Kalibata Utara II. Hump!!! 500 meter lagi…. oh my God! Semakin panjang langkah kami, semakin banyak yang kami dapatkan. Begitlah hakekat tolibul ilmi….

Kalibata Utara II, 10.37an pagi rada2 siang
Gedung Gema Insani, gedung 2 lantai bergaya arsitektur barat ??? dengan spanduk bsar yang ber bunyi diskon 40%, bercat putih, tonggak-tonggak berukuran besar dan lorong parkir di salah satu sisinya, nampak di atas lorong tulisan ”INSISTS” The Institut for Study of Islamic Thought and Civilizazion. kami masuk kelorong dengan pertanyaan mana pintu masuknya?…
Setelah berhasil masuk, kami menuju ruangan kajian,….ups telat gak ya…. tempat duduk hampir penuh,….namun ternyata ustadnya belum kunjung datang. Tek..tek..tek.. jam menyeru ”sekarang jam 11” datang peserta baru, kali ini seorang perempuan ber-pakaian abu-abu kehitaman dengan rok hitam, jaket hitam, jilbab hitam , memanggul tas yang juga matching ’hitam’, namun ada yang beda, kulitnya putih, giginya putih ber-’behel’ dan berkaca mata. Itu loh yang namanya mba’ Lulu, mahasiswa yang baru wisuda setelah tahun 2003 lalu masuk UI di jurusan Sastra Indonesia, salah satu pegiat komunitas Nuun, bahkan satu-satunya yang putri, tapi itu dulu. Ramah, bersahaja, cuek, terbuka, cerdas, cantik lagi…saya mbatin. Di sela waktu ’ngobrol’ kami dalam rangka menunggu Ustad, mas front office masuk dan mengabarkan ustad akan datang ba’da dzuhur, dari sanalah Nuun dan IPF memanfaatkan waktu, berkenalan, berbagi cerita, semangat dan cita-cita.
Berikut hikmah yang saya petik:
Nuun, sebuah komunitas yang muncul akibat keresahan sekelompok anak muda melihat lingkungan sekelilingn mereka, ’kampus’ lembaga pendidikan yang seharusnya netral telah diakuisisi Barat. Barat dengan segala kepentingannya semakin memarginalkan Islam secara kuantitas melalui gazwul fikr yang tak tanggung-tanggung tersistematis bahkan terinstitusi melalui birokrat kampus. Dengan pena sebagai pedang mereka berperang, adu argumen di seminar ato kelas, diskusi lepas dan apalah yang bisa mereka lakukan. Berbekal ikhtiar, keikhlasan, dan kesungguhan berjuang Subhki, Rido’, Rijal, Mba Lulu cs meretas suatu hal yang besar dengan hal-hal kecil di sekeliling mereka. Dengan alasan melebur identitas yang melelahkan mereka membetuk komunitas ini, filosofinya QS. Al Qalam 1-9. nuu….n, wal qalamiwa maa yasturun….suara yang mendengungkan protes untuk menggugah makhluk disekitar mereka, tentang kebenaran hakiki yang telah dijadikan absurd, …dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti agung, kelak kamu akan melihat siapa diantara kamu yang gila …
Dengan mengusung ’tarbiyatul islam lil wujud’ gerakan pemikiran ini melawan arus westernisas, pluralisme akidah, dan wacana-wacana sejenisnya. Sebuah gerakan inklusif yang nampak eksklusif, tak lekang dari berbagai prasangkan ekstrimis, radikal, fundamentalis, dsb, memang begitu fitrahnya toh! Jadicuk aja lagie!. Sebuah gerakan berbasis hubungan kultural, juga tak lepas dari masalah pertentangan karakter dan keragaman latar belakang. Kekompakan merupakan sebuah proses yang tak didapat mereka sehari-dua hari, hanya waktu yang dapat menetramkan. Namun dari situlah energi komunitas ini. Namun seiring dengan waktu juga, masalah kepenerusan perjuangan pemikiran ini menjadi kegelisahan tersendiri. Tak berarti kehilangan akal, komunitas Nuun mulai tahun ini menyelenggarakan dauroh kepada para pegiat barunya. Upaya partisipatif anggota baru harapannya dapat mengidiologisasi semangat perjuangan ini kepada para pegiat anyar untuk kepenerusan perjuangan komunitas Nuun.
Perjuangan fikrah Islam memang masih ditilik sebelah mata, namun esensinya begitu penting dalam mejaga kemurnian dakwah ini dari kepentingan-kepentingan duniawi yang dterpolitisir oleh nafsu-nafsu kecil dalam sudut batin manusia. Maka sebaik-baiknya amal ialah berlandaskan ilmu, begitu pula ilmu, sebaik-baiknya ilmu yang terimplementasikan kedalam amal, sehingga perpaduan diantara keduanya kita dapati sebagai amal shalih….

Lalu kajian di Insists-nya????
Wsh kalo itu …. gmananya….??? catatannya hilang dalam secarik kertas yang terselip di buku kuliah saya, baru sewaktu mau saya tulis ulang ini ndak ketemu, maaf……!
Secara garis besar aja yah,….
Sebearnya kajian kali ini merupakan rangkaian dari agenda ”Kursus Hermeneutika dan Tafsir Al-Qur’an” yang diselenggarakan oleh Insists dan kajian kali ini sudah pertemuan ke 5 dari 6 kali pertemuan jadi jujur rada ga ngerti.
Tapi kurang lebih begini latar belakang tujuan kursus ini:
Gerakan-gerakan yang dimotori oleh Insists telah memberikan kritik-kritik epistimologi yang sangat berarti bagi Hermeneutika yang ingin dipaksakan kelompok cendekiawan liberal Indonesia untuk menggantikan metodologi tafsir dan takwil yang telah mapan dipakai oleh ulama Islam selama kurun perjalanan keilmuan umat Islam. Sebagai suatu metode asing yang diimpor dari luar, heurmeneutika tidak dapat begitu saja disandingkan dengan tafsir/takwil apalagi untuk menggntikannya keduanya. Maka dibutuhkan telaah serius dan mendalam untuk mengkaji bukan hanya kritik terhadap heurmeneutika, melainkan juga; akar masuknya metode Barat dan Qur’anic Studies; perbedaan esensial konsep Tafsir Takwil dan Heurmeneutika; dan beberapa isu penting seputar penerapan Heurmeneutika untuk Al Quran; dan dampak kerusakan yang diakibatkan pembacaan Al Quran dengan ilmu humanitas Barat. Begitu….!
Bersama Ust. Fahmi Salim MA, pertemuan kali ini beliau memaparkan kritik terhadap desertasi tesis dari …..(lupa) tafsir tematik adab antar umat beragama menurut tafsir Al Manar karya Rasyid Ridho dengan menggunakan metode heurmeneutik. Berikut kritik-kritik beliau yang saya ingat;
1. Si pengarang sudah memiliki asumsi awal sebelum menafsirkan suatu ayat, padahal dalam menafsirkan al qur’an mufasir tidak boleh memiliki asumsi awal yang akan berdampak ayat tersebut yang akan dibuat-buat sebagai legitimasi terhadap asumsinya
2. Si pengarang tidak dapat membedakan dengan jelas antara opini pribadi dan kutipan ulama salaf yang beliau gunakan
3. Si pengarang tidak dapat memahami kontekstual tafsir yang beliau gunakan, tidak mengambil makna keseluruhan tap memotong-motomg frase yang dapat digunakan untuk mendukung argumen pengarang
4. Si pengarang juga kurang jeli terhadap kutipan-kutipan yang diambilnya, beberapa kutipan yang digolongkan ber-ideologi mu’tazilah dimasukan sebagai sumber kutipan beliau

Hasil refleksi dari kritik terhadap desertasi yang akan diujikan secara terbuka tersebut, adalah bagaimana desertasi tersebut dapat lolos sehingga dapat diujiakan secara terbuaka, padahal keilmiahannya sendiri berdasarkan metode ulama Islam yang sudah mapan banyak menuai kritik. Hal ini menunjukan kekredibilitasan para ulama Islam (penguji beliau) yang ada di negeri ini masih sangat buruk. Inilah yang disayangkan bersama, karena metode keilmuan barat sudah banyak merasuki pemikiran para guru besar (ulama) Islam Indonesia, dan makin jauhnya tradisi keilmuan Islam dari khasanah para ulama Islam Indonesia. Jika ulamnya saja ”jahlun” bagaimana dengan rakyatnya?

Masjid Ukhuwah Islamiah (MUI), 04.47an senja
Menikmati sore di Maskam-nya UI, menikmati hidangan kombinasi hijaunya hutan manekin, danau techno, dan siraman matahari senja yang masih alami, dengan iringan senandung angin yang bertalu-talu menyapa wajah kami, sejuk dan damai. Dan akhirnya perut yang bersenandung lagu keroncong terisi juga. Diiringi sedikit evaluasi dan perencanaan agenda besok kami menutup agenda hari untuk hari ini. Setelah mengistirahatkan ruhy dengan shalat maghrib berjama’ah, senyuman kecil pada jama’ah lain, dan sedikit alunan tilawah kami beranjak menuju rumah seorang kerabat. Seorang kolega baik sewaktu di asrama dulu, mba’ 103 mipa 02, jazzakillah khoir yah mba! Sedikit berbagi cerita, berbagi tawa, berbagi agenda, berbagi keluarga dan berbagi rizki (mkasih 4 roti bakar n’ sarapan nasi udugnya) Bersilahturahmi atau numpang menginap n minta ma’em yah? Hayo…!

Fisip UI, 08.30an pagi…
Menyapa teman-teman ARC, Al Hikmah Reserch Center FISIP UI. Begitu agenda kami di hari minggu pagi ini. subhanallah disela kesibukan mereka yang sedang menyelenggarakan LK versi mereka, masih mau menyempatkan diri menjamu temen-temen IPF yang lagi hehehe (nyari kerjaan nih), bertemu Hanum Solg 05’, mba’ Ratna Admin Niaga 05’, Mba’ Azizah KesMas 04’, Mansyur…..af1 lupa(te\at seeh), subhanallah nambah semangat dan nambah kenyang (snacknya lumayan bwt nambah sarapan) berikut gambarannya:
Al Hikmah Reserch Center, lembaga riset keislaman ini sejrahnya berawal dai seksi riset atau pengkajian yang dimiliki Forum Studi Islam (semacam JMFnya) namun sekarang sudah mulai beranjak untuk melepaskan diri dan langsung berada dibawah koordinasi mushola FISIP UI. Berdiri tepatnya 2 tahun yang lalu, lembaga ini berawal dari kesadaran betapa pentingnya lembaga riset ke Islaman berbasis keilmuan sosial, serta peningkatan kualitas akademis kader., tidak hanya berparameter IPK, tapi berdasarkan profesionalisasi terkait standar bidang keilmuannya masing-masing. Kegiatan-kegiatan yang dilakukan berupa kajian interdisipliner, kajian ilmu sosial keislaman, yang konteksna masih berlingkup internal kader, sedang untuk acara yang lebih besar, kemarin telah diadakan pelatihan PKM dan pembuatan proposal penelitian untuk umum yang dianggap cukup sukses merangkul teman-teman dari luar walaupun adengan agak mengurangi sedikit idealisme. Karena mau-takmau seperti halnya lembaga lain keberlangsungan lembaga membutuhkan penerus-penerus baru yang tidak bisa tidak harus direkrutmenjalankan lmbaga ini kedepannya. Sempat kehilangan tangan di tahun 2004 membuat lembaga ini harus semakin mempercepat sistem kaderisasi sehingga dari ankatan 2003 langsung beralih tangan pada teman-teman 2005.
Perjuangan dalam ranah pemikiran sungguh bukan perjuangan yang mudah, ditengah glombang pragmatisme mahasiswa kebanyakan. Gerakan pemikiran menjadi sebuah gerakan yang tidak populer apalagi gerakan pemikiran Islam yang bertentangan dengan mainstream ajaran kampus. Upaya untuk membumikan gerakan pemikiran Islam inilah yang coba ARC lakukan, dengan mengusahakan dibukanya Middle East Corner di Pusat Studi Miriam Budiardjo sebagai tandingan American Corner. Sebuah hasil yang tak mungkin dituai dalam waktu singkat, perlahan tapi menuju perubahan. Taujih hamasah singkat dari ketua FIS,, bagaimana seorang da’i harus dapat memposisikan dirinya sehingga dakwahnya diterima, salah satunya dengan fikrah yang kuat mampu masuk, merangkul, dan meyakinkan Islam sebagai rahmatan lil alamin. Taujih yang sangat inspiratif walaupun terbilang cukup singkat. Kemudian disambung taujih lain dari salah seorang al akh FIS juga yang intinya, buatlah kajian yang membumi, tak hanya dinikmati oleh temen-temen mushola, saatnya temen-temen keluar dari masjid, berdiskusi dengan orang-orang yang diluar sana menyebarkan fikrah islam dan kebermanfaatan dien ini. Di sesi terakhir Subhki dari Nuun kembali membersamai kami dan memberikan taujih yang cukup provokatif yang makin membakar semangat juang saya mengenai betapa pentingnya kami harus memperjuangkan fikrah ini.
Diakhiri dengan foto bersama di depan mushola FISIP yang terbilang cukup megah kami mengakhiri kunjungan kami di UI. Diantarkan oleh Hanum dan mba’Azizah kami beranjak menuju stasiun UI untuk kembali berjuang di medan dakwah UGM, Yogya,…. Dengan semangat baru, kami harus kembali…..
Sebuah perjalanan yang mengugah fikrah dan qolbu.. Bagaimana agama ini mulai sepertihalnya bara api. Kenapa agama harus digenggam dengan gigi geraham. Dan siapa orang-orang terasing yang masih mau memperjuangkannya….

Evaluasi dan Rekomendasi kedepan
- hal-hal teknis walupun kecil dan sangat oprasional harus deperhitungkan dengan lebih matang
- besok kalo mau kunjungan lagi bawa’ kenang-kenangan yah!
- Kerja sama dan jaringan yang terjalin harus segera di follow up-i
- Hasil kunjungan ini akan nampak buahnya, saat tiap-tiap kita dengan kerendahan hati mau mengambil hikmah dari perjalanan ini tanpa melupakan kekhususan medan dakwah dan amunisis kita masing-masing

Special Thanx for:
P’Bowo, Mb Eq, Priyo n Friend, Tukang Parkir Stasiun Lempuyangan, Dian Amik Kayani, Maradhika Kapmi, Ibu Penjual Lontong di kreta, mas yang bersedia pindah tempat duduk, Abang Bajaj di Blok M, Sopir Taksi tarif lama, Ibu , Bapak, Masinda, Tio, (my lovely family), Abang kenek metromini 75, mba yang berjaket palestine, saudara-saudari peserta kajian di Insists, Ust. Fahmi Salim, Mba’ Lulu, Subhki and de Nuun Comunity, Mba 103 and bigFamily, mba2 yg ditanyain di di MUI, Umi salaf beserta jundi-jundinya, Abang sopir angkot trayek 07 Depok, saudara seperjuangan di FSI Fisip UI, Hanum, Mansyur, Ratna, Mba’ Azizah dari ARC, Desy 47, K’Dwi N 47, mbak Pajak yg mau motoin kita, kakek di masjid jamie dekat stasiun Jatinegara,
De team IPF adventures….. Randi, Wibi, Amri, and Wiwiek asif jidan atas kedzoliman2 yg saya lakukan sepanjang perjalanan…
and of course Allah Azza wa jalla yang berkenan memberi nurani, akal, dan nafas sehingga dapat menafakuri sepanjang perjalanan ini, sebagai bekal meneruskan perjuangan dakwah Rasullulah akhir zaman.

By. Indri

Tinggalkan komentar